JurnalLugas.Com – Bencana banjir bandang dan longsor besar yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tiongkok terus menambah jumlah korban. Hingga Rabu, 16 September 2026, sebanyak 1.442 orang dilaporkan meninggal dunia setelah tim penyelamat kembali menemukan 14 jenazah.
Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal (NDRRMA) mencatat 1.399 korban tewas berada di wilayah Nepal. Sementara itu, sekitar 5.179 orang masih dinyatakan hilang dan proses pencarian terus dilakukan.
NDRRMA menyebut operasi penyelamatan telah berhasil mengevakuasi atau menyelamatkan 13.742 orang. Pemerintah Nepal juga mengerahkan lebih dari 21 ribu personel keamanan untuk membantu pencarian korban, evakuasi, serta distribusi bantuan.
“Data orang hilang masih harus diverifikasi karena dapat mencakup korban yang sudah ditemukan tetapi belum teridentifikasi maupun orang yang sebenarnya telah berhasil diselamatkan,” kata pihak NDRRMA dalam laporan terbarunya.
Di antara daftar orang yang masih hilang terdapat 587 warga negara asing. Angka tersebut masih memungkinkan berubah setelah proses pendataan dan identifikasi selesai.
Korban di Tiongkok
Di wilayah Tiongkok, terutama Tibet yang disebut Beijing sebagai Daerah Otonomi Xizang, korban meninggal dunia tercatat 43 orang. Sebanyak 519 orang masih dilaporkan hilang, termasuk 261 warga negara asing.
Bencana bermula pada 26 Agustus 2026 ketika bagian gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, mengalami keretakan pada ketinggian sekitar 5.200 meter.
Material es dan batu kemudian bergerak turun dalam jumlah besar. Pergerakan tersebut memicu longsoran yang membawa lumpur, batu, dan material lainnya hingga menerjang lembah-lembah di kawasan perbatasan kedua negara.
Di Nepal, sejumlah wilayah terdampak, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre hingga kawasan Lembah Kathmandu.
Dampak serupa juga terasa di Gyirong, wilayah perlintasan penting di Xizang. Kawasan tersebut tertutup material batu dan es akibat terjangan bencana.
Kerusakan di Gyirong turut mengganggu salah satu jalur perdagangan dan transit antara Nepal dan Tiongkok.
Dengan ribuan orang masih belum ditemukan, tim penyelamat dari kedua negara masih melanjutkan pencarian di sejumlah lokasi terdampak.
Proses identifikasi korban juga menjadi bagian penting untuk memperbarui data orang hilang yang hingga kini masih terus berubah.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Dahlan)






