JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia kembali menguat tajam pada perdagangan Selasa, 15 September 2026. Kenaikan dipicu kabar penghentian sementara pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Arab Saudi, Yanbu, yang berada di kawasan Laut Merah.
Mengutip informasi dari sumber industri pelayaran, aktivitas pemuatan minyak mentah di Yanbu terhenti. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran pasar karena gangguan pasokan dari salah satu negara produsen utama dunia berpotensi berlangsung lebih lama.
Arab Saudi juga dilaporkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak kepada pelanggan di Eropa. Perkembangan ini membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan ekspor berlangsung hingga beberapa pekan.
Sumber industri pelayaran menyebut penghentian aktivitas pemuatan dan pembatalan pengiriman tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat mempersempit pasokan minyak ke sejumlah wilayah.
Di tengah kekhawatiran tersebut, harga minyak mentah Amerika Serikat justru mencatat kenaikan lebih besar dibandingkan minyak Brent. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,38 persen menjadi USD105,83 per barel.
Sementara itu, harga minyak Brent naik 2,9 persen ke level USD108,75 per barel.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar mulai merespons risiko gangguan pasokan secara lebih agresif. Investor juga terlihat mengalihkan perhatian ke minyak mentah AS sebagai salah satu alternatif ketika distribusi dari Arab Saudi menghadapi tekanan.
Jika gangguan ekspor Arab Saudi berlanjut, pasar minyak global akan kembali menghadapi persoalan mengenai ketersediaan pasokan. Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga minyak tetap berada pada level tinggi dalam perdagangan berikutnya.
Perkembangan aktivitas ekspor dari Yanbu dan pengiriman minyak Arab Saudi ke Eropa menjadi salah satu faktor yang akan terus diperhatikan pasar dalam beberapa hari ke depan.
Baca berita ekonomi dan perkembangan pasar lainnya di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






