Cara Mengetahui Apakah Email Pernah Bocor, Cek Sekarang Sebelum Akun Disalahgunakan

JurnalLugas.Com — Alamat email kini menjadi salah satu identitas utama di internet. Hampir semua layanan digital meminta email, mulai dari media sosial, marketplace, perbankan hingga aplikasi pekerjaan.

Masalahnya, email yang pernah digunakan untuk mendaftar layanan tertentu bisa ikut terseret ketika perusahaan tersebut mengalami kebocoran data. Pengguna sering kali tidak mengetahui bahwa alamat emailnya sudah masuk dalam daftar data yang pernah terekspos.

Bacaan Lainnya

Kabar baiknya, kondisi tersebut dapat diperiksa dengan cara yang cukup sederhana.

Salah satu layanan yang banyak digunakan untuk mengecek riwayat kebocoran adalah Have I Been Pwned (HIBP).

Pengguna cukup memasukkan alamat email untuk melihat apakah alamat tersebut tercatat dalam kebocoran data yang telah dimuat dalam basis data layanan tersebut.

Hasil pemeriksaan dapat menunjukkan layanan atau insiden kebocoran yang berkaitan dengan alamat email tersebut.

Cek email di Have I Been Pwned

Namun, hasil “tidak ditemukan” bukan berarti email pasti aman untuk selamanya. Artinya, alamat tersebut tidak ditemukan dalam data kebocoran yang tersedia di layanan itu. Kebocoran baru dapat muncul kemudian atau sebuah insiden belum masuk ke basis data pemeriksaan.

Baca Juga  Cara Bikin Email di Yahoo Mail dengan Mudah, Panduan Lengkap Pemula

Sebaliknya, jika email ditemukan dalam daftar kebocoran, pengguna tidak perlu langsung panik. Yang paling penting adalah melihat jenis data yang terdampak dan segera mengamankan akun yang menggunakan kata sandi sama atau memiliki keterkaitan dengan akun tersebut.

HIBP sendiri menyediakan informasi mengenai kategori data yang terekspos tanpa memberikan kembali data mentah korban.

Jangan Abaikan Password yang Pernah Dipakai Berulang

Risiko terbesar muncul ketika satu kata sandi digunakan pada banyak layanan. Jika kredensial dari salah satu layanan bocor, pelaku dapat mencoba menggunakannya pada akun lain.

Karena itu, setelah mengetahui email pernah masuk dalam kebocoran data, langkah penting berikutnya adalah mengganti kata sandi pada akun yang masih menggunakan password lama. Gunakan kata sandi berbeda untuk setiap layanan dan hindari kombinasi yang mudah ditebak.

Badan keamanan siber Amerika Serikat, CISA, juga menekankan pentingnya autentikasi multifaktor atau MFA. Lapisan keamanan tambahan ini dapat membantu mencegah pengambilalihan akun meskipun kata sandi sudah diketahui pihak lain.

“Turn on MFA” menjadi salah satu anjuran keamanan yang terus ditekankan CISA untuk akun penting, termasuk email.

Selain mengecek kebocoran, pengguna sebaiknya memperhatikan tanda-tanda akun mulai disalahgunakan. Misalnya muncul notifikasi login dari perangkat yang tidak dikenal, email pemulihan berubah tanpa sepengetahuan pemilik, pesan terkirim sendiri, atau terdapat aktivitas akun yang tidak pernah dilakukan.

Jika tanda tersebut muncul, jangan hanya mengganti password. Periksa perangkat yang masih memiliki akses, keluarkan sesi login yang tidak dikenal, perbarui informasi pemulihan dan aktifkan MFA.

Pada akhirnya, mengecek apakah email pernah bocor bukan sekadar kegiatan untuk mengetahui apakah sebuah alamat masuk daftar kebocoran. Pemeriksaan tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa keamanan akun digital perlu dilakukan secara berkala.

Email yang pernah bocor belum tentu berarti akun sudah diretas. Tetapi jika alamat email tersebut diketahui pernah masuk dalam insiden kebocoran, langkah paling aman adalah memperkuat perlindungan sebelum informasi yang sama dimanfaatkan untuk mengambil alih akun lain.

Informasi teknologi dan keamanan digital lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com.

(Tirta)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait