JurnalLugas.Com — Di tengah meningkatnya aktivitas digital, email masih menjadi salah satu sarana komunikasi yang paling banyak dimanfaatkan.
Namun, di balik kemudahannya, ancaman kejahatan siber melalui email phishing juga terus berkembang dan menyasar siapa saja, mulai dari pelajar, pekerja, hingga pelaku usaha.
Phishing merupakan metode penipuan yang dilakukan dengan menyamar sebagai pihak resmi untuk mencuri informasi penting seperti kata sandi, nomor rekening, data kartu kredit, hingga kode OTP.
Pelaku biasanya mengirim email yang tampak meyakinkan agar korban mengklik tautan berbahaya atau mengunduh file berisi malware.
Pakar keamanan siber mengingatkan bahwa kewaspadaan pengguna menjadi benteng utama dalam menghadapi berbagai modus phishing yang terus berubah.
“Mayoritas serangan phishing berhasil karena korban lengah, bukan karena sistem keamanannya lemah,” ujar seorang pakar keamanan siber dalam berbagai edukasi mengenai keamanan digital, yang diterima JurnalLugas.Com Selasa 21 Juli 2026.
1. Alamat Pengirim Terlihat Aneh
Salah satu ciri paling mudah dikenali adalah alamat email pengirim tidak sesuai dengan domain resmi perusahaan.
Misalnya, terdapat tambahan huruf, angka, atau karakter yang sekilas sulit dibedakan.
2. Meminta Data Rahasia
Perusahaan resmi hampir tidak pernah meminta password, PIN, kode OTP, atau data perbankan melalui email.
Jika menerima permintaan seperti ini, sebaiknya jangan langsung menanggapinya.
3. Mengandung Ancaman atau Mendesak
Email phishing sering menggunakan kalimat yang membuat panik, seperti akun akan diblokir, hadiah hangus, atau transaksi dibatalkan apabila tidak segera melakukan tindakan dalam hitungan jam.
4. Banyak Kesalahan Penulisan
Meski semakin canggih, masih banyak email phishing yang memiliki tata bahasa kurang rapi, ejaan salah, atau format tulisan yang tidak profesional.
5. Tautan Tidak Sesuai
Sebelum mengklik tautan, arahkan kursor ke link tersebut atau periksa alamat situsnya.
Jika berbeda dari domain resmi perusahaan, jangan dibuka.
6. Lampiran Mencurigakan
File dengan format ZIP, RAR, EXE, atau dokumen Office yang meminta mengaktifkan macro patut diwaspadai karena berpotensi mengandung malware.
7. Logo Perusahaan Buram
Pelaku biasanya menyalin identitas perusahaan, tetapi kualitas logo, tata letak, maupun desain email sering kali tidak serapi versi resmi.
8. Tawaran Hadiah Tidak Masuk Akal
Email yang mengklaim pengguna memenangkan undian, hadiah besar, atau cashback fantastis tanpa pernah mengikuti program tertentu merupakan modus yang sering digunakan.
9. Salam Terlalu Umum
Email resmi biasanya mencantumkan nama penerima. Sebaliknya, phishing sering memakai sapaan seperti “Pelanggan Terhormat” atau “Dear User.”
10. Meminta Login Melalui Link
Alih-alih membuka situs melalui tautan di email, lebih aman mengetik langsung alamat website resmi di browser untuk memastikan keasliannya.
Cara Menghindari Email Phishing
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi risiko menjadi korban kejahatan siber, di antaranya:
- Jangan sembarang mengklik tautan dari email yang tidak dikenal.
- Gunakan autentikasi dua faktor (2FA) pada akun penting.
- Perbarui sistem operasi dan antivirus secara berkala.
- Selalu periksa alamat pengirim sebelum membalas email.
- Laporkan email mencurigakan sebagai spam atau phishing.
Pentingnya Literasi Digital
Meningkatnya kasus penipuan digital menunjukkan bahwa keamanan siber bukan hanya tanggung jawab penyedia layanan, tetapi juga pengguna.
Dengan memahami ciri-ciri email phishing, masyarakat dapat menghindari pencurian data pribadi maupun kerugian finansial.
Kewaspadaan menjadi langkah paling efektif untuk menghadapi berbagai modus penipuan yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi.
Jangan mudah percaya pada email yang menawarkan hadiah, meminta data pribadi, atau mendesak pengguna mengambil keputusan secara cepat tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Baca artikel teknologi dan keamanan digital lainnya di JurnalLugas.Com
(Tirta)






