JurnalLugas.Com — Harga emas dunia kembali mendapat tekanan. Pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, harga emas spot turun hampir 2 persen setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengacu pada data perdagangan, harga emas spot merosot 1,93 persen menjadi USD4.317,02 per troy ons.
Penurunan tersebut terjadi ketika perhatian pasar tertuju pada arah kebijakan moneter AS. Data inflasi yang masih menunjukkan tekanan membuat ekspektasi terhadap keputusan The Fed pekan depan berubah lebih hawkish.
Kondisi semakin menekan emas setelah harga minyak dunia melonjak. Kenaikan harga energi dinilai dapat memperbesar tekanan inflasi sehingga ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga ikut mengurangi daya tarik emas. Aset emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi relatif kurang menarik ketika tingkat imbal hasil obligasi meningkat.
Analis Capital Kyle Rodda menilai kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang kembali memperkuat tekanan inflasi AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar emas masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga AS. Jika tekanan inflasi bertahan tinggi, investor akan terus mencermati kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih ketat.
Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mulai mereda, emas berpeluang kembali mendapatkan dukungan sebagai aset lindung nilai.
Untuk saat ini, perhatian pasar masih tertuju pada keputusan The Fed dan perkembangan inflasi AS yang menjadi penentu penting arah harga emas berikutnya.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Hans)






