JurnalLugas.Com – Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) mengalami kenaikan cukup tajam sepanjang Agustus 2026. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat rata-rata ICP mencapai US$89,43 per barel, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Pemerintah menetapkan angka tersebut melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 352.K/MG.03/MEM.M/2026. Pada Juli 2026, rata-rata ICP masih berada di level US$81,68 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kenaikan tersebut tidak terlepas dari kondisi pasar minyak dunia yang kembali menghadapi tekanan geopolitik serta risiko gangguan pasokan.
Menurut Laode, ketegangan di sejumlah jalur penting perdagangan minyak, termasuk kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak mentah.
Kondisi tersebut diperkuat oleh berbagai gangguan terhadap kapal tanker dan fasilitas pengolahan minyak, sehingga pasar memperhitungkan risiko pasokan yang lebih ketat.
“Kenaikan ICP juga sejalan dengan pergerakan sejumlah harga minyak mentah acuan dunia selama Agustus. Brent dan WTI turut mengalami penguatan dibandingkan Juli, menunjukkan tekanan harga tidak hanya terjadi pada pasar minyak Indonesia,” katanya, Jumat 11 September 2026.
Faktor geopolitik bukan satu-satunya perhatian. Pengetatan sanksi ekonomi serta ketidakpastian diplomasi internasional juga membuat pasar minyak sulit mendapatkan sentimen penurunan harga yang kuat.
Memasuki September, pemerintah memperkirakan harga ICP masih berada pada level relatif tinggi.
Proyeksi sementara berada di kisaran US$83-US$87 per barel, dengan kondisi pasokan global dan perkembangan di jalur distribusi minyak menjadi faktor penting yang terus dipantau.
Pemerintah menegaskan perkembangan harga minyak dunia akan terus diperhatikan untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Formula ICP juga tetap digunakan dengan mengacu pada dinamika pasar internasional sehingga pengelolaan harga minyak dapat dipertanggungjawabkan bagi negara maupun industri hulu migas.
Pergerakan ICP dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada apakah tekanan geopolitik mereda atau justru kembali mengganggu pasokan minyak dunia.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(William)






