Mengapa Asam Urat Sulit Turun? Ini Penyebabnya

JurnalLugas.Com – Kadar asam urat yang tetap tinggi meski sudah mengurangi makanan tertentu menjadi persoalan yang cukup sering dialami penderita gout.

Banyak orang mengira penyebabnya hanya makanan tinggi purin. Padahal, ada sejumlah faktor lain yang dapat membuat kadar asam urat sulit terkendali.

Bacaan Lainnya

Secara sederhana, asam urat meningkat ketika tubuh memproduksinya terlalu banyak atau ginjal tidak mampu membuangnya secara optimal melalui urine.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan hiperurisemia dan pada sebagian orang memicu terbentuknya kristal urat di persendian.

Bukan Hanya Soal Makanan

Pola makan memang berpengaruh. Konsumsi berlebihan daging merah, jeroan, makanan laut, alkohol, serta minuman tinggi gula atau fruktosa dapat memperburuk kondisi pada sebagian penderita.

Namun, menghindari satu atau dua jenis makanan saja belum tentu membuat kadar asam urat langsung turun. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa “diet dan perubahan cara hidup merupakan komponen yang penting” dalam pengelolaan gout.

Artinya, pengendalian asam urat perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar menghapus makanan tertentu dari menu harian.

Fungsi Ginjal Bisa Menjadi Faktor Penting

Salah satu alasan asam urat sulit turun adalah kemampuan ginjal dalam mengeluarkan urat yang berkurang. Ketika fungsi ginjal terganggu, pembuangan asam urat melalui urine ikut terpengaruh sehingga kadarnya dapat bertahan tinggi.

Baca Juga  Tetap Nyaman Tanpa Nyeri, Strategi Ampuh Menjaga Asam Urat Stabil Saat Bepergian

Karena itu, penderita asam urat yang sulit terkendali perlu memperhatikan kondisi kesehatan ginjal, terutama jika kadar urat tetap tinggi meski pola makan sudah diperbaiki. Penyakit ginjal juga termasuk kondisi yang sering ditemukan bersamaan dengan gout.

Berat Badan dan Pola Hidup Ikut Berpengaruh

Kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, konsumsi makanan berkalori tinggi, serta kebiasaan mengonsumsi minuman manis dapat menjadi bagian dari masalah.

Penurunan berat badan secara bertahap hingga mencapai kondisi yang lebih sehat dapat menjadi bagian dari pengelolaan gout. Pedoman juga menganjurkan pola makan seimbang, aktivitas fisik, serta pembatasan alkohol dan minuman berpemanis.

Bisa Juga Karena Pengobatan Belum Mencapai Target

Pada penderita gout tertentu, perubahan pola makan saja tidak cukup untuk mengendalikan kadar asam urat. Terapi penurun kadar urat dapat diperlukan, terutama pada pasien dengan serangan gout berulang atau kondisi tertentu.

Pedoman NICE menggunakan strategi treat-to-target, yakni dosis terapi disesuaikan berdasarkan pemeriksaan kadar urat secara berkala sampai mencapai target yang ditentukan. Target umum yang digunakan adalah kadar urat di bawah 6 mg/dL.

Karena itu, obat asam urat sebaiknya tidak dihentikan atau diubah sendiri hanya karena kadar sudah mulai turun. Pengaturan terapi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan hasil pemeriksaan.

Baca Juga  Apakah Asam Urat Bisa Merusak Ginjal? Ini Hubungan Perlu Dipahami

Penyebab Lain yang Sering Terlewat

Selain pola makan dan ginjal, beberapa kondisi juga dapat berkaitan dengan tingginya kadar asam urat. Di antaranya obesitas, hipertensi, diabetes, gangguan metabolisme, faktor keturunan, serta penggunaan obat tertentu seperti diuretik.

Faktor-faktor tersebut membuat penanganan asam urat tidak bisa disamaratakan. Dua orang dengan pola makan yang hampir sama dapat memiliki kadar asam urat berbeda karena kondisi tubuh dan penyakit penyertanya tidak sama.

Jadi, jika asam urat sulit turun, jangan hanya berfokus pada daftar makanan yang harus dihindari. Perhatikan pula berat badan, aktivitas fisik, konsumsi minuman manis dan alkohol, fungsi ginjal, penyakit penyerta, serta apakah pengobatan yang diberikan sudah mencapai target.

Jika kadar asam urat terus tinggi atau serangan nyeri dan bengkak pada sendi berulang, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.

Baca informasi kesehatan dan berita lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

(Lili)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait