Harga Emas Dunia Menguat, Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed

JurnalLugas.Com – Harga emas dunia kembali menguat setelah tekanan dari kekhawatiran inflasi mulai mereda seiring penurunan harga minyak. Namun, arah pergerakan logam mulia ini masih dibayangi ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam rapat Federal Reserve (The Fed).

Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), harga emas spot naik 1,07 persen menjadi USD4.060,33 per troy ons. Penguatan tersebut terjadi setelah emas sempat menyentuh posisi terendah USD3.987,14 pada sesi perdagangan sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Perubahan harga minyak menjadi salah satu faktor yang menopang pemulihan emas. Ketika harga energi menurun, tekanan inflasi berpotensi berkurang sehingga membuka ruang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang tidak terlalu ketat.

Penurunan Minyak Menjadi Penopang Emas

Kenaikan emas kali ini menunjukkan bahwa pergerakan logam mulia tidak hanya dipengaruhi permintaan terhadap aset aman, tetapi juga oleh ekspektasi pasar terhadap inflasi dan suku bunga.

Baca Juga  Harga Emas Pegadaian Antam Tembus Segini per Gram

Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menilai penurunan harga minyak dapat memberikan dukungan bagi emas karena meredakan kekhawatiran inflasi dan berpotensi mengurangi kecenderungan The Fed mempertahankan kebijakan ketat.

Pernyataan tersebut menyoroti hubungan antara harga energi, inflasi, dan kebijakan moneter. Jika tekanan inflasi melemah, ekspektasi terhadap suku bunga dapat berubah. Kondisi ini berpotensi menguntungkan emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Meski demikian, perubahan ekspektasi tersebut belum menjamin harga emas akan terus naik. Pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan inflasi dan sinyal kebijakan dari bank sentral AS.

Perhatian Beralih ke Rapat The Fed

Selain faktor minyak, pasar juga memantau perkembangan di Timur Tengah dan negosiasi yang masih berlangsung. Grant menyebut kedua hal tersebut turut memengaruhi arah pergerakan pasar saat ini.

Kombinasi perkembangan geopolitik dan prospek suku bunga membuat harga emas berpotensi bergerak fluktuatif. Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan minat terhadap aset aman, sementara perubahan ekspektasi suku bunga memengaruhi daya tarik emas dibandingkan instrumen berbunga.

Baca Juga  Harga Emas Global Naik, Kemendag Lonjakan Dipicu Safe Haven dan Ekspektasi Pelonggaran Moneter

Karena itu, rapat The Fed menjadi salah satu agenda penting bagi pelaku pasar. Petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, dan harga emas dunia.

Penguatan pada perdagangan Selasa memberikan ruang pemulihan setelah emas melemah pada sesi sebelumnya. Namun, keberlanjutan tren tersebut masih bergantung pada perkembangan inflasi, harga energi, situasi geopolitik, serta sinyal kebijakan yang disampaikan The Fed.

Bagi investor, kenaikan harga dalam satu sesi belum cukup untuk memastikan terbentuknya tren penguatan baru. Perkembangan pasar berikutnya tetap perlu dicermati sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait