JurnalLugas.Com – Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Kamis, 28 Maret 2024, mengungkapkan bahwa lebih dari 1,1 juta penduduk Jalur Gaza menghadapi tingkat kerawanan pangan yang ekstrem karena tindakan pembatasan pasokan oleh Israel.
Menurut OCHA, distribusi bantuan makanan yang memadai melalui jalur darat menjadi krusial untuk menyelamatkan nyawa, terutama di wilayah utara Jalur Gaza.
Meskipun demikian, hambatan akses masih menjadi tantangan yang harus segera diatasi.
Selain itu, pihak medis melaporkan kematian seorang anak di Kota Beit Lahia di Gaza utara akibat kelaparan dan minimnya akses terhadap perawatan medis.
Hal ini menambah kesedihan karena jumlah korban kematian akibat kekurangan gizi di Jalur Gaza telah mencapai 30 orang.
Serangan besar-besaran Israel terhadap Hamas di Jalur Gaza sebagai balasan atas serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023 telah memperparah kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Diperkirakan sekitar 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 orang disandera selama serangan tersebut.
Sebagai akibatnya, wilayah yang terkepung ini, yang dihuni sekitar 2,35 juta orang, menghadapi situasi yang semakin sulit, sementara peringatan internasional tentang potensi bencana kelaparan semakin meningkat.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengecam penolakan Israel terhadap resolusi terbaru Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata selama bulan suci Ramadan.
Kementerian tersebut mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna menerapkan resolusi tersebut, memastikan perlindungan terhadap warga sipil, dan memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui jalur darat, udara, dan laut.
Pernyataan resmi juga menyalahkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, atas eskalasi krisis ini, menuduhnya menggunakan kebijakan ‘menanggung akibat’ untuk mengalihkan krisisnya kepada warga Palestina dan dunia internasional, sambil mempertahankan posisinya sebagai perdana menteri.






