JurnalLugas.Com – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah mengalami lonjakan signifikan dalam sepekan terakhir, mencatat kenaikan sebesar 14,12 persen.
Pada tanggal 23 April 2024, saham BUMI melonjak 21,18 persen mencapai level 103 pada penutupan perdagangan, dengan nilai transaksi mencapai Rp412 miliar.
Namun, pada hari ini (26/4), saham BUMI mengalami penurunan sebesar 5,83 persen, menjatuhkannya di bawah level 100 lagi, tepatnya Rp97 per saham.
Volatilitas harga saham BUMI ini menarik perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI) yang meminta penjelasan dari manajemen BUMI.
Dalam Keterbukaan Informasi BEI, Direktur dan Corporate Secretary, Dileep Srivastava menjelaskan bahwa perseroan berencana melakukan kuasi reorganisasi untuk mengompensasi saldo laba dengan agio saham yang tercatat dalam buku.
Tujuan dari rencana ini adalah untuk memungkinkan perseroan untuk membayar dividen tunai kepada pemegang saham, namun masih memerlukan persetujuan dari regulator dan pemegang saham perseroan.
Rencana kuasi reorganisasi ini akan diajukan pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 30 Mei 2024.
Dileep menegaskan bahwa saat ini tidak ada informasi atau fakta penting lain yang dapat memengaruhi harga saham perseroan selain rencana tersebut.
BUMI saat ini mencatatkan laba ditahan negatif sebesar USD2,35 miliar per akhir 2023, yang menghambat perseroan untuk membayar dividen.
Oleh karena itu, dengan peraturan soal kuasi reorganisasi, BUMI berusaha mengimbangi laba ditahan negatif tersebut dengan premi saham sebesar lebih dari USD3 miliar yang tercatat dalam bukunya, yang juga harus mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dileep menyatakan bahwa pembagian dividen akan dipertimbangkan setelah proses kuasi reorganisasi selesai dan mendapat persetujuan dari OJK.
Meskipun demikian, perusahaan akan mengusahakan pembagian dividen tersebut sesegera mungkin.






