JurnalLugas.Com – Pasar tenaga kerja di Jepang terus menunjukkan ketatnya persaingan pada bulan Juni 2024. Laporan dari Kementerian Dalam Negeri yang dirilis pada Selasa (30/07/2024) mencatat penurunan tingkat pengangguran menjadi 2,5% dari 2,6% pada bulan sebelumnya. Sementara para ekonom memperkirakan angka tersebut tetap stabil di 2,6%, jumlah pekerja meningkat signifikan sebanyak 370.000, dengan wanita menjadi kontributor utama kenaikan ini. Namun, jumlah individu yang masih menganggur juga meningkat sebesar 20.000 orang.
Dampak Angkatan Kerja yang Menua dan Menyusut
Jepang menghadapi tantangan besar dengan angkatan kerja yang terus menua dan menyusut, yang menyebabkan kekurangan tenaga kerja kronis. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk memberikan kenaikan upah terbesar dalam lebih dari tiga dekade selama negosiasi tahunan musim semi dengan serikat pekerja. Berdasarkan laporan dari kelompok payung serikat pekerja terbesar di negara tersebut, pekerja memperoleh kenaikan gaji lebih dari 5%.
Tekanan Pada Upah
Takeshi Minami, ekonom di Norinchukin Research Institute, menyatakan bahwa pasar tenaga kerja yang ketat ini akan terus memberikan tekanan pada upah. Perusahaan kecil terutama tidak memiliki pilihan lain selain menaikkan upah untuk menarik dan mempertahankan tenaga kerja. Kementerian Tenaga Kerja juga mengusulkan kenaikan upah minimum per jam sebesar 5% untuk tahun fiskal ini, yang mencerminkan tren peningkatan upah di berbagai sektor ketenagakerjaan.
Pandangan Bank Sentral Jepang
Bank Sentral Jepang (BOJ) sedang mengamati tanda-tanda bahwa kenaikan upah yang berkelanjutan akan mendorong pemulihan konsumsi dan memicu pertumbuhan harga yang didorong oleh permintaan. Hal ini penting bagi BOJ untuk lebih menormalkan kebijakan moneter. BOJ akan merinci rencana untuk pengetatan kuantitatif setelah pertemuan selama dua hari yang berakhir pada Rabu (31/07/2024). Sekitar 30% ekonom yang disurvei memperkirakan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pada saat itu.
Pembaruan Prospek Ekonomi
BOJ juga diperkirakan akan memperbarui prospek ekonominya. Dalam laporan April, bank menyatakan bahwa kondisi pasar tenaga kerja kemungkinan akan semakin ketat selama pemulihan ekonomi. Mereka mencatat bahwa pertumbuhan upah diharapkan meningkat sebagai tren, sebagian karena kenaikan harga.
Indikator Pasar Tenaga Kerja
Dalam laporan terpisah, rasio pekerjaan terhadap pelamar turun tipis menjadi 1,23, menunjukkan adanya 123 pekerjaan tersedia untuk setiap 100 pelamar, yang merupakan angka terendah sejak Maret 2022. Namun, rasio pembukaan pekerjaan baru terhadap pencari kerja naik menjadi 2,26. Ini menandakan bahwa perusahaan masih kesulitan mengisi posisi yang tersedia.
Tantangan bagi Perusahaan Kecil
Meskipun kenaikan upah dapat memberikan tekanan positif pada ekonomi, hal ini juga menempatkan perusahaan kecil dalam posisi yang sulit. Menurut survei Teikoku Databank, sekitar 182 perusahaan mengalami kebangkrutan karena kendala tenaga kerja pada paruh pertama 2024, dengan 80% di antaranya adalah perusahaan dengan kurang dari 10 karyawan.
Kondisi pasar tenaga kerja di Jepang tetap ketat dengan tantangan besar terutama bagi perusahaan kecil. Meskipun ada peningkatan dalam jumlah pekerja dan kenaikan upah, tekanan untuk mempertahankan dan menarik tenaga kerja terus berlanjut. Kebijakan dan langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah dan Bank Sentral Jepang akan sangat penting dalam mengarahkan perkembangan ekonomi di masa mendatang.






