JurnalLugas.Com – Hamas telah mengumumkan bahwa pemimpin politik mereka, Ismail Haniyeh, tewas dalam sebuah serangan udara di Iran. Haniyeh, yang selama ini berbasis di Qatar, sedang berada di Teheran untuk menghadiri pelantikan presiden baru Iran pada Selasa, 30 Juli 2024. Menurut pernyataan Hamas pada Rabu 31 Juli 2024 pagi, Haniyeh dibunuh “dalam serangan udara Zionis yang berbahaya di kediamannya” di Teheran.
Profil Ismail Haniyeh
Ismail Haniyeh dikenal sebagai wajah diplomasi internasional Hamas. Sebagai sosok yang sering tampil di depan publik saat konflik berkecamuk di Gaza, ia kehilangan tiga putranya dalam serangan udara Israel. Meskipun sering mengeluarkan retorika keras, banyak diplomat melihat Haniyeh sebagai seorang moderat dibandingkan dengan anggota Hamas lainnya yang lebih radikal dan didukung oleh Iran.
Haniyeh lahir di al-Shati, sebuah kamp pengungsi di Gaza pada tahun 1962. Pada tahun 2017, ia terpilih sebagai kepala biro politik Hamas menggantikan Khaled Meshaal. Namun, ia sudah lebih dulu terkenal sebagai Perdana Menteri Palestina setelah kemenangan Hamas dalam pemilihan parlemen tahun 2006.
Setelah kesepakatan pembagian kekuasaan dengan Fatah yang dipimpin oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas runtuh, Hamas mengambil alih kendali penuh atas Jalur Gaza pada tahun 2007. Haniyeh, yang dianggap sebagai sosok pragmatis, hidup dalam pengasingan dan sering berada di Turki dan Qatar.
Karier dan Pengaruh
Di masa mudanya, Haniyeh merupakan anggota cabang mahasiswa Ikhwanul Muslimin di Universitas Islam Gaza. Ia bergabung dengan Hamas pada tahun 1987, tepat saat kelompok militan ini didirikan selama intifadhah Palestina pertama melawan pendudukan Israel, yang berlangsung hingga tahun 1993. Selama periode ini, Haniyeh beberapa kali dipenjara oleh Israel dan kemudian diusir ke Lebanon selatan selama enam bulan.
Tragedi Keluarga
Pada 10 April, tiga putra Haniyeh, Hazem, Amir, dan Mohammad, tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam mobil mereka. Selain itu, Haniyeh juga kehilangan empat cucunya dalam serangan yang sama. Ia menolak klaim Israel bahwa putra-putranya adalah pejuang Hamas, dan menyatakan bahwa kepentingan rakyat Palestina selalu menjadi prioritas utamanya.
Sikap dan Diplomasi
Meski sering mengeluarkan pernyataan keras di depan publik, para diplomat dan pejabat Arab menganggap Haniyeh sebagai sosok yang relatif pragmatis dibandingkan dengan anggota Hamas lainnya di Gaza. Haniyeh dan Khaled Meshaal telah berusaha melakukan pembicaraan mengenai gencatan senjata yang ditengahi oleh Qatar dengan Israel, yang mencakup pertukaran sandera dan bantuan yang lebih besar untuk Gaza.
Hubungan dengan Iran
Selama masa jabatannya sebagai pemimpin tertinggi Hamas di Gaza, Haniyeh memiliki andil besar dalam meningkatkan kapasitas tempur Hamas dengan membina hubungan dengan Iran. Israel menuduh tim kepemimpinannya mengalihkan bantuan kemanusiaan untuk kepentingan sayap militer Hamas, meskipun tuduhan ini selalu dibantah oleh Hamas.
Pembunuhan Ismail Haniyeh menambah daftar panjang konflik berdarah antara Hamas dan Israel, yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Kematian Haniyeh kemungkinan besar akan membawa dampak signifikan pada dinamika politik dan militer di kawasan tersebut.






