Pasar Saham Asia Siap Meledak Data Ekonomi AS Picu Lonjakan Tak Terduga

Analyst pointing the chart.

JurnalLugas.Com – Pasar saham Asia diperkirakan akan mengalami penguatan pada Jumat (16/08/2024), seiring dengan optimisme yang meningkat setelah data pekerjaan dan pengeluaran di Amerika Serikat (AS) menunjukkan hasil yang solid. Kekuatan ini berhasil meredakan kekhawatiran akan potensi resesi dan memicu kenaikan di pasar saham global.

Indeks saham berjangka di beberapa pasar utama Asia menunjukkan tren positif. Di Australia dan Hong Kong, kontrak saham berjangka naik sekitar 1%, sementara kontrak untuk Nikkei 225 di Tokyo melonjak hampir 3%. Sentimen positif ini juga terlihat di Wall Street, di mana S&P 500 ditutup naik 1,6% pada Kamis (15/08/2024), dan Nasdaq 100 yang dominan dengan saham teknologi menguat 2,5%. Kenaikan ini didorong oleh data penjualan ritel yang lebih baik dari perkiraan serta klaim pengangguran yang mencapai titik terendah sejak awal Juli.

Bacaan Lainnya

Optimisme di pasar saham AS mencerminkan meredanya kekhawatiran terhadap tindakan Federal Reserve (The Fed). Sebelumnya, data pekerjaan yang mengecewakan dua minggu lalu sempat memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham global, karena investor khawatir bahwa The Fed mungkin telah terlambat dalam menurunkan suku bunga.

Baca Juga  Goldman Sachs Prediksi S&P 500 Berpotensi Melonjak Hingga Akhir 2024

“Data penjualan ritel yang lebih baik dari perkiraan berhasil meredakan beberapa kekhawatiran bahwa AS mungkin jatuh ke dalam resesi,” ujar Bret Kenwell, analis di eToro. “Investor dan konsumen mengharapkan inflasi turun, tetapi tentu saja tidak dengan mengorbankan pertumbuhan ekonomi.”

Seiring dengan kenaikan harga saham, harga obligasi pemerintah AS turun, didorong oleh ekspektasi pasar akan pelonggaran agresif dari The Fed. Pasar swap kini memproyeksikan tiga kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada sisa pertemuan The Fed tahun ini, berkurang dari empat pemotongan yang diantisipasi sebelumnya dalam minggu ini.

Imbal hasil Treasury mengalami kenaikan, terutama pada obligasi dengan jangka waktu yang lebih pendek, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun meningkat delapan basis poin menjadi 3,91%. Indeks kekuatan dolar AS juga menguat, sementara yen Jepang melemah terhadap dolar hingga mencapai level yang terakhir kali terlihat pada awal bulan.

Baca Juga  Wall Street Merosot Pasar Obligasi AS Menguat di Tengah Data Ekonomi yang Melemah

Di kawasan Asia, investor akan mencermati beberapa laporan data ekonomi yang akan dirilis pada Jumat (16/08/2024), termasuk produk domestik bruto (PDB) dari Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan, serta data Indeks Industri Tersier dari Jepang. Di sisi lain, kepala bank sentral China telah berjanji untuk mengambil langkah-langkah lebih lanjut guna mendukung pemulihan ekonomi, sambil mengingatkan bahwa mereka tidak akan mengambil langkah-langkah “drastis”.

Perhatian investor juga akan tertuju pada Alibaba Group Holding Ltd, yang melaporkan kenaikan pendapatan hanya sebesar 4%, yang merupakan pertumbuhan terlemah setelah bisnis perdagangan di China mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam setidaknya satu tahun.

Penguatan bursa Asia ini menunjukkan bahwa pasar masih optimis dengan prospek ekonomi global, meskipun ada tantangan yang harus dihadapi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter dan pertumbuhan ekonomi.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait