Gencatan Senjata Iran-Israel Bursa Asia Menguat Harga Minyak dan Emas Anjlok Tajam

JurnalLugas.Com – Pasar Asia mengalami penguatan signifikan pada Selasa (24/6/2025) setelah mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Iran dan Israel telah menyepakati gencatan senjata. Kabar ini mendorong pelaku pasar untuk kembali berburu aset berisiko, sembari memicu pelemahan dolar AS dan penurunan tajam harga minyak serta emas.

Dalam unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyebut gencatan senjata akan berlaku dalam 12 jam dan menyatakan bahwa perang antara Iran dan Israel telah “berakhir.” Meski belum ada konfirmasi resmi dari Teheran maupun Tel Aviv, sentimen pasar langsung merespons positif.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini menjadi momok bagi pasar global. “Ini mengurangi sebagian ketidakpastian geopolitik yang membayangi pasar, meskipun selama ini investor saham relatif mengabaikannya. Ini terdengar seperti tonggak penting, dan saya harap itu benar,” kata Jack Ablin, Chief Investment Officer Cresset Wealth Advisors, dikutip dari Reuters.

Minyak dan Emas Tertekan, Dolar Melemah

Penguatan pasar disertai penurunan tajam harga minyak global. Harga minyak mentah AS jatuh 4% ke level US\$65,75 per barel, memperpanjang penurunan sebelumnya yang mencapai 9% setelah Iran hanya melakukan serangan simbolis ke pangkalan militer AS dan menyatakan tidak akan meningkatkan eskalasi.

Baca Juga  Iran Tantang Trump Kirim Kapal ke Teluk Persia, IRGC Selat Hormuz Sepenuhnya di Bawah Kendali

Redanya kekhawatiran akan gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia, terutama di sekitar Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dunia—mendorong harga turun drastis dan membuat permintaan terhadap aset safe haven seperti emas ikut melemah.

Harga emas spot turun 0,4% ke level US\$3.353 per ons, seiring pergeseran minat investor ke aset berisiko.

Di pasar mata uang, dolar AS melemah 0,1% terhadap yen, turun ke posisi 145,92, sementara euro menguat 0,1% ke US\$1,1589. Mata uang Jepang dan Eropa turut terdorong karena penurunan harga energi memberikan keuntungan bagi negara pengimpor seperti Jepang dan Uni Eropa.

Pasar Saham dan Obligasi Reaktif

Sementara itu, kontrak berjangka indeks S\&P 500 naik 0,3%, dan Nasdaq menguat 0,5%, mencerminkan optimisme pasar. Di Jepang, kontrak Nikkei melonjak ke level 38.905, naik tajam dari penutupan sebelumnya di 38.354.

Baca Juga  Ebrahim Zolfaghari Iran Hancurkan C-130 AS, Trump Pasti Pilot Selamat

Obligasi pemerintah AS juga tertekan, dengan kontrak berjangka obligasi tenor 10 tahun turun 6 tick, akibat berkurangnya permintaan aset aman. Ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga The Fed juga mengalami penurunan.

Sebelumnya, Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, menyatakan bahwa risiko terhadap pasar tenaga kerja meningkat, sehingga waktu pemangkasan suku bunga semakin dekat. Namun, perhatian kini tertuju pada kesaksian Ketua The Fed Jerome Powell di Kongres yang dijadwalkan berlangsung Selasa malam waktu AS, dengan pelaku pasar menanti sinyal tegas terkait arah kebijakan moneter.

Hingga kini, pelaku pasar memperkirakan hanya sekitar 22% peluang The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan yang dijadwalkan pada 30 Juli 2025 mendatang.

Ikuti perkembangan berita ekonomi dan pasar global hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait