Singapura Impor Listrik Rendah Emisi dari Indonesia CEO EMA Puah Kok Keong Penuhi 30% Kebutuhan

JurnalLugas.Com – Singapura, melalui Energy Market Authority (EMA), merencanakan untuk mengimpor listrik rendah emisi sebanyak 4,2 gigawatt (GW) dari beberapa negara pada 2035. Indonesia menjadi salah satu sumber utama dalam rencana ini.

Chief Executive Officer EMA Singapura, Puah Kok Keong, menyebutkan bahwa listrik rendah emisi yang akan diimpor dari berbagai negara tersebut diperkirakan akan memenuhi sekitar 30% kebutuhan listrik Singapura. EMA telah memberikan persetujuan bersyarat untuk proyek-proyek dari negara-negara Asia Tenggara: 2 GW dari Indonesia, 1 GW dari Kamboja, dan 1,2 GW dari Vietnam.

Menurut Keong, meskipun kontribusi Indonesia hanya sebesar 2 GW, proyek ini memerlukan instalasi sekitar 11 GW-peak panel surya serta penyimpanan energi baterai sebesar 21 gigawatt-hour (GWh). Singapura menargetkan pencapaian net zero emission (NZE) pada 2050, namun terbatas oleh luas wilayah yang kecil, hanya sekitar 700 kilometer persegi, sehingga tidak banyak ruang untuk proyek energi terbarukan berskala besar.

Untuk mencapai target NZE, Singapura memandang pentingnya kerjasama dengan negara tetangga, termasuk Indonesia, serta potensi impor dari Malaysia, Kamboja, Laos, dan Vietnam. Keong menyatakan bahwa permintaan energi Singapura setelah 2035 diperkirakan akan meningkat, sehingga ada peluang untuk memperluas impor energi terbarukan dari kawasan tersebut.

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi memastikan bahwa ekspor listrik rendah emisi melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) ke Singapura pada akhir 2027 tetap berjalan. Asisten Deputi Industri Pendukung Infrastruktur Kemenko Marves, Andi Yulianti Ramli, menjelaskan bahwa lima pengembang yang telah mendapatkan persetujuan bersyarat sedang dalam tahap diskusi bisnis dengan PT PLN (Persero). Kelima pengembang tersebut termasuk konsorsium PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), EDP Renewables (EDPR), Keppel Infrastructure, dan Vanda.

Yulianti menambahkan bahwa PLN berperan dalam memberikan daftar manufaktur penyedia bahan baku untuk pembangunan solar farm yang akan digunakan untuk ekspor listrik ke Singapura. Bahan baku tersebut harus memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 60% yang akan diverifikasi oleh Lembaga Verifikasi Independen (LVI). Kementerian Perindustrian juga sedang menyusun peta jalan TKDN untuk solar panel guna mendukung pengembangan ekosistem di Indonesia.

Dengan langkah-langkah ini, Singapura dan Indonesia berkomitmen untuk memajukan kerjasama dalam sektor energi terbarukan dan mendukung upaya global menuju keberlanjutan energi.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait