JurnalLugas.Com – Presiden terpilih 2024-2029, Prabowo Subianto, selangkah lagi merealisasikan wacana pembentukan kabinet gemuk (Gemoy) untuk masa pemerintahannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Langkah ini terlihat dari pemanggilan sekitar 110 nama yang berlangsung di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, dan di Hambalang, Bogor.
Namun, komposisi kabinet yang disusun menunjukkan adanya pergeseran dari janji awal Prabowo untuk membentuk kabinet zaken, yakni kabinet yang mayoritas diisi oleh profesional. Sebaliknya, struktur pemerintahan Prabowo didominasi oleh politisi dari koalisi KIM Plus, menandakan adanya bagi-bagi kursi yang signifikan antar-partai politik.
Proporsi Anggota Kabinet
Kabinet Prabowo nantinya akan diisi oleh sekitar 60 pejabat yang meliputi menteri, wakil menteri, serta kepala badan. Dari keseluruhan pejabat tersebut, 55,6% atau lebih dari separuhnya berasal dari partai politik. Sisanya terdiri dari:
- Teknokrat: 17 orang (15,7%)
- Latar belakang militer dan kepolisian: 8,3%
- Pengusaha: 7,4%
- Akademisi: 5,6%
- Tokoh agama: 4,6%
- Selebriti: 2,8%
Langkah ini menandakan bahwa Prabowo lebih memprioritaskan stabilitas politik melalui konsolidasi kekuatan koalisi daripada menekankan kompetensi profesional.
Pembagian Kursi Politik
Nyaris seluruh partai politik dalam KIM Plus mendapat kursi, kecuali Partai NasDem. Partai pimpinan Surya Paloh tersebut tidak dilibatkan karena dianggap bukan bagian dari pengusung Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024. Sebaliknya, PKS dan PKB, yang semula tergabung dalam Koalisi Perubahan bersama NasDem, justru mendapatkan kursi setelah bergabung dengan KIM Plus.
PKS diberikan satu kursi menteri yang diisi oleh akademisi dari ITB, sementara PKB mendapat dua kursi menteri dan satu wakil menteri.
Selain NasDem, PDI Perjuangan juga tidak mendapat posisi di kabinet. Meskipun sempat beredar wacana pertemuan antara Prabowo dan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, rencana tersebut tampaknya batal terealisasi sebelum pelantikan presiden. Kendati begitu, Prabowo menarik Budi Gunawan, mantan ajudan Megawati dan tokoh dekat PDIP, untuk bergabung ke kabinetnya.
Kursi untuk Partai Koalisi
Distribusi kursi kabinet di internal KIM terlihat variatif. Berikut adalah alokasi kursi untuk partai-partai koalisi:
- Gerindra: 13 kursi (6 menteri, 7 wakil menteri)
- Golkar: 12 kursi (8 menteri, 4 wakil menteri)
- Demokrat: 4 kursi (3 menteri, 1 wakil menteri)
- PAN: 4 kursi (2 menteri, 2 wakil menteri)
- PKB: 3 kursi (2 menteri, 1 wakil menteri)
- PSI: 3 kursi
- PBB: 2 kursi (1 menteri, 1 wakil menteri)
- Gelora: 2 kursi (2 wakil menteri)
- PKS, Prima, dan Garuda: Masing-masing 1 kursi
Daftar Tokoh dalam Kabinet Prabowo
Berikut daftar tokoh yang dipersiapkan untuk masuk dalam kabinet:
Gerindra
- Prasetio Hadi
- Sugiono
- Fadli Zon
- Maruarar Sirait
- Rachmat Pambudy
- Supratman Andi Atgas
- Angga Raka Prabowo
- Romo Muhammad Syafi’i
- Taufik Hidayat
- Dahnil Anzar Simanjuntak
- Ahmad Riza Patria
- Thomas Djiwandono
- Irfan Yusuf
Golkar
- Nusron Wahid
- Wihaji
- Bahlil Lahadalia
- Agus Gumiwang
- Maman Abdurrahman
- Dito Ariotedjo
- Airlangga Hartarto
- Meutya Hafid
- Christina Aryani
- Dyah Roro Esti
- Lodewijk F. Paulus
- Ace Hasan Syadzily
Demokrat
- Teuku Riefky Harsya
- Agus Harimurti Yudhoyono
- Iftitah Sulaiman
- Ossy Dermawan
PAN
- Yandri Susanto
- Zulkifli Hasan
- Bima Arya
- Viva Yoga Mauladi
PKB
- Abdul Kadir Karding
- Muhaimin Iskandar
- Faisol Riza
PSI
- Raja Juli Antoni
- Isyana Bagoes Oka
- Giring Ganesha
PBB
- Yusril Ihza Mahendra
- Afriansyah Noor
Gelora
- Anis Matta
- Fahri Hamzah
PKS
- Yassierli
Prima
- Agus Jabo Priyono
Garuda
- Ahmad Ridha Sabana
PPP
- Mardiono
Kabinet Prabowo Subianto menandai era baru pemerintahan dengan fokus besar pada stabilitas politik melalui aliansi koalisi KIM Plus. Kendati sebagian kecil kursi diisi oleh profesional, mayoritas posisi strategis tetap dipegang oleh politisi, terutama dari partai-partai koalisi.
Pembagian kursi ini menunjukkan strategi Prabowo untuk merangkul kekuatan politik sebanyak mungkin, guna memastikan pemerintahan yang solid dan minim oposisi.
Namun, absennya NasDem dan PDIP dalam komposisi kabinet menambah dinamika politik, khususnya dalam relasi eksekutif dan legislatif.
Bagaimana strategi ini akan berjalan, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik, masih menjadi sorotan publik hingga hari pelantikan resmi kabinet baru.






