Zionis Israel Mulai Jajah Suriah Masuk Zona Penyangga di Gunung Hermon Katz Kami Berlindung

JurnalLugas.Com – Pendudukan zona penyangga di sisi Suriah di Gunung Hermon oleh tentara zionis Israel akan tetap berlangsung selama musim dingin. Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Pertahanan zionis Israel, Israel Katz, pada Jumat (13/12), menyusul langkah militer yang telah dilakukan sejak 8 Desember. Pada hari tersebut, pasukan anti-rezim menyerbu Damaskus, memaksa Presiden Bashar al-Assad melarikan diri ke Rusia.

Dalam pernyataan resmi, Katz menyebutkan bahwa kehadiran pasukan Israel di Gunung Hermon memiliki nilai strategis bagi keamanan nasional, terutama dengan situasi konflik di Suriah yang terus berkembang. Ia juga menekankan bahwa tentara Israel harus siap menghadapi tantangan, termasuk cuaca ekstrem di kawasan tersebut.

Bacaan Lainnya

“Kehadiran kita di puncak Hermon sangat penting. Segala langkah akan diambil untuk memastikan kesiapan pasukan menghadapi situasi di lapangan,” ujar Katz.

Baca Juga  Greta Thunberg Kecam Israel “Dunia Tak Bisa Pura-Pura Tak Tahu Ada Genosida di Gaza”

Evaluasi Situasi di Suriah

Keputusan ini diambil setelah pertemuan antara Katz, Kepala Staf Herzi Halevi, dan sejumlah pejabat militer pada Kamis (12/12) malam. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi kondisi keamanan terkini di Suriah dan menentukan langkah strategis ke depan.

Sejak 8 Desember, tentara Israel telah memasuki zona penyangga sejauh 2 hingga 10 kilometer dari perbatasan Suriah. Meski demikian, Katz menolak memberikan detail tentang lokasi pasti atau desa-desa di Suriah tempat pasukan Israel ditempatkan, dengan alasan menjaga keamanan operasi.

Zona Penyangga di Gunung Hermon

Menurut data dari Pasukan Pengamat Pelepasan PBB (UNDOF), zona penyangga di perbatasan ini memiliki panjang lebih dari 75 kilometer dengan lebar yang bervariasi, mulai dari 200 meter di bagian selatan hingga sekitar 10 kilometer di bagian tengah. Zona ini direbut oleh Israel setelah pasukan anti-rezim berhasil menguasai Damaskus, yang memicu perubahan signifikan dalam dinamika konflik Suriah.

Kejatuhan Damaskus menandai akhir dari kepemimpinan Bashar al-Assad selama hampir 25 tahun dan kekuasaan keluarganya yang berlangsung selama 53 tahun. Perang saudara yang berkepanjangan di Suriah telah menciptakan ketegangan yang kompleks di kawasan tersebut, memaksa berbagai pihak, termasuk Israel, untuk mengambil tindakan strategis guna melindungi kepentingan mereka.

Baca Juga  Iran Gempur Israel Teheran Bersumpah Hancurkan Rezim Zionis Terkutuk

Pendudukan zona penyangga ini memperlihatkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di Timur Tengah. Langkah Israel ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi keamanan nasional, tetapi juga menunjukkan bahwa konflik di Suriah masih menjadi ancaman bagi stabilitas kawasan.

Keberadaan pasukan Israel di Gunung Hermon menunjukkan bahwa negara tersebut tetap waspada terhadap perkembangan situasi di Suriah. Dengan keputusan ini, Israel menunjukkan bahwa mereka siap menghadapi segala potensi ancaman, baik dari sisi keamanan maupun geopolitik.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait