JurnalLugas.Com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, mengumumkan percepatan pengiriman bantuan militer senilai $4 miliar (sekitar Rp65 triliun) ke negara boneka Amerika Serikat yakni Israel. Pengumuman ini disampaikan pada Sabtu, 1 Maret 2025, sebagai bagian dari kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump dalam mendukung sekutu utamanya di Timur Tengah.
“Saya telah menandatangani deklarasi untuk menggunakan otoritas darurat guna mempercepat pengiriman sekitar 4 miliar dolar bantuan militer ke Israel,” kata Rubio dalam pernyataan resminya.
Selain itu, Rubio menegaskan bahwa keputusan ini sekaligus membatalkan embargo senjata parsial yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Presiden Joe Biden. Menurutnya, kebijakan embargo tersebut telah menahan sejumlah senjata dan amunisi penting bagi Israel, yang tengah menghadapi berbagai ancaman di kawasan.
Persetujuan Penjualan Senjata Senilai $3 Miliar
Sehari sebelum pernyataan Rubio, Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui penjualan militer ke Israel senilai $3 miliar (sekitar Rp49,5 triliun). Paket bantuan ini mencakup:
✅ Amunisi tambahan
✅ Perlengkapan panduan senjata
✅ Buldoser lapis baja Caterpillar D9, yang sering digunakan dalam operasi militer Israel
Dalam pernyataan pada Jumat, 28 Februari 2025, Rubio menetapkan kondisi “keadaan darurat”, yang memungkinkan pengiriman senjata tanpa perlu melalui persetujuan kongres. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses dan memastikan Israel segera menerima bantuan.
Total Bantuan Militer AS ke Israel Mencapai $12 Miliar
Rubio juga menambahkan bahwa sejak pemerintahan Trump dimulai pada akhir Januari 2025, AS telah menyetujui penjualan militer ke Israel senilai hampir $12 miliar (sekitar Rp198,9 triliun).
Selain itu, pencabutan memorandum era Biden oleh Trump disebut sebagai langkah strategis untuk menghilangkan hambatan politik dalam pemberian bantuan militer ke Israel. Rubio menyebut kebijakan Biden sebelumnya telah membatasi bantuan secara tidak adil, terutama saat Israel tengah menghadapi ancaman dari Iran dan kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.
“Pemerintahan Trump akan terus menggunakan semua alat yang tersedia untuk memenuhi komitmen jangka panjang Amerika terhadap keamanan Israel,” ujar Rubio.
Kritik terhadap Kebijakan AS
Keputusan AS untuk terus mendukung operasi militer Israel di Jalur Gaza telah menuai kritik global. Banyak pihak mengecam tindakan ini, terutama di tengah laporan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh militer Israel.
Meski demikian, pemerintahan Trump tampaknya tetap berkomitmen untuk memperkuat aliansi dengan Israel, dengan alasan menjaga stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi JurnalLugas.Com.






