Ribuan Pendukung Tuntut Pembebasan Rodrigo Duterte di Davao Filipina

JurnalLugas.Com – Sekitar 20.000 orang berkumpul di Kota Davao, Filipina, pada Minggu, 16 Maret 2025, dalam aksi unjuk rasa besar-besaran. Para demonstran menuntut pembebasan dan pemulangan mantan presiden Rodrigo Duterte, yang saat ini diadili di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Duterte Ditangkap dan Diadili di ICC

Rodrigo Duterte ditangkap di Bandara Internasional Manila pada Rabu (12/3) setelah kembali dari Hong Kong. Ia kemudian dibawa ke Den Haag untuk menghadapi persidangan atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait perang melawan narkoba yang ia jalankan selama menjabat sebagai presiden Filipina dari 2016 hingga 2022.

Bacaan Lainnya

Duterte dituduh bertanggung jawab atas ribuan pembunuhan di luar hukum dalam operasi antinarkoba yang dilakukan oleh polisi Filipina. Data resmi mencatat sedikitnya 6.252 orang tewas dalam operasi tersebut. Namun, kelompok hak asasi manusia mengklaim bahwa angka korban bisa mencapai 27.000, termasuk pembunuhan dengan gaya main hakim sendiri.

Baca Juga  53 Ribu Lebih Warga Palestina Tewas Akibat Genosida Zionis Terkutuk Israel ICC Tangkap Netanyahu

Pada Jumat (14/3), Duterte menghadiri sidang awal di Ruang Praperadilan Satu ICC melalui tautan video. Hakim Julia Antoanella Motoc memimpin jalannya persidangan, yang bertujuan untuk mengonfirmasi identitas Duterte, memberitahukan hak-haknya, serta menetapkan jadwal sidang konfirmasi dakwaan.

Demonstrasi Besar di Kota Kelahiran Duterte

Unjuk rasa di Davao berlangsung dalam suasana penuh semangat. Para pendukung Duterte memanfaatkan momentum perayaan ulang tahun ke-88 kota tersebut untuk menunjukkan dukungan mereka. Mereka meneriakkan yel-yel menuntut kepulangan Duterte dan menyelenggarakan doa bersama di Rizal Park, dekat balai kota.

Wakil Presiden Sara Duterte, yang juga putri Rodrigo Duterte, menyampaikan pesan kepada para pendukung ayahnya. Berbicara di hadapan warga Filipina yang berkumpul di luar gedung ICC, Sara Duterte menyampaikan bahwa ia telah mengunjungi ayahnya sebelum persidangan pertama.

“Beliau mengatakan kepada saya: ‘Katakan kepada mereka untuk tetap tenang. Akan ada akhir dari semua ini. Akan ada hari pembalasan.’ Jadi, itulah pesan beliau kepada kalian semua,” ujar Sara Duterte.

Baca Juga  China Peringatkan Filipina di Laut China Selatan, Beijing Hentikan Provokasi

Penangkapan dan persidangan Duterte di ICC memicu reaksi beragam di Filipina. Sementara sebagian besar pendukungnya menganggap ini sebagai ketidakadilan, kelompok hak asasi manusia menyambut baik langkah hukum tersebut.

Duterte selama ini dikenal dengan kebijakan kerasnya dalam perang melawan narkoba. Namun, pendekatan tersebut menuai kritik tajam dari komunitas internasional yang menilai bahwa kebijakan tersebut melanggar hak asasi manusia.

Kasus ini akan menjadi ujian bagi sistem hukum internasional dalam menegakkan keadilan terhadap pemimpin yang diduga melakukan pelanggaran berat terhadap rakyatnya.

Untuk berita dan analisis lebih lanjut, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait