JurnalLugas.Com – Gaza kembali dilanda horor pada Selasa, 18 Maret 2025, ketika rentetan serangan udara menghantam wilayah tersebut sebelum fajar menyingsing. Dalam waktu singkat, sekitar 80 serangan udara zionis Israel mengguncang kota, menewaskan lebih dari 400 warga Palestina dan melukai ratusan lainnya. Kehancuran yang ditinggalkan semakin menambah penderitaan masyarakat Gaza yang telah lama terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Dampak Mengerikan di Lapangan
Di tengah reruntuhan bangunan yang kini hanya menyisakan puing-puing, tim medis berjuang menyelamatkan korban. Dengan tangan kosong, mereka menarik jenazah dan korban luka dari rumah-rumah yang hancur.
Rumah sakit di Gaza kini berada di ambang kehancuran. Koridor-koridor dipenuhi oleh penyintas yang berlumuran darah, keluarga yang putus asa mencari orang-orang terkasih, serta jenazah yang terus berdatangan. Menurut Mohammed Abu Salmiya, seorang pejabat kesehatan senior di Gaza, fasilitas medis hampir lumpuh akibat keterbatasan peralatan dan pasokan bahan bakar yang kian menipis.
“Kami menghadapi bencana kesehatan yang nyata. Ruang gawat darurat penuh, peralatan medis langka, dan generator hampir kehabisan bahan bakar,” ujarnya.
Ketakutan dan Trauma Kolektif
Serangan brutal ini kembali membuka luka lama bagi warga Gaza. Hanan Muhanna, seorang ibu di Gaza City, menceritakan detik-detik mencekam saat ledakan mengguncang rumahnya.
“Rasanya seperti neraka… Anak-anak terus berteriak, dan rumah kami bergetar akibat bom. Kami tidak tahu apakah akan selamat malam itu,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Di Rafah, kondisi warga yang mengungsi tak kalah menyedihkan. Umm Muhammad, seorang ibu dengan lima anak, harus bertahan hidup di tenda setelah rumahnya hancur.
“Kami sedang tidur ketika rudal menghantam rumah sebelah. Kami tidak punya makanan, tidak ada air. Anak-anak tidur di tanah,” paparnya.
Manuver Politik di Balik Serangan
Serangan udara ini bukanlah tindakan mendadak. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, mengungkapkan bahwa keputusan untuk melancarkan serangan telah dibuat beberapa hari sebelumnya. Bahkan, pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah diberi tahu dan mendukung operasi tersebut.
Analis politik Raed Najm melihat serangan ini sebagai bagian dari strategi militer Israel yang lebih besar. Dengan blokade listrik dan pengetatan bantuan, ditambah dengan pengeboman intensif, Israel tampaknya sedang mempersiapkan serangan darat ke Gaza.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan ini merupakan respons terhadap penolakan Hamas atas usulan perpanjangan gencatan senjata yang diinisiasi oleh Israel dan AS.
Analis politik Palestina, Ismat Mansour, memperingatkan bahwa tindakan ini telah mengakhiri kemungkinan perundingan damai dan membuka babak baru dalam konflik yang lebih kompleks.
Gaza di Persimpangan Jalan
Serangan ini menandai eskalasi serius yang semakin memperburuk situasi di Gaza. Dengan ribuan warga kehilangan tempat tinggal, fasilitas kesehatan yang hampir runtuh, dan ketidakpastian masa depan, penderitaan rakyat Palestina semakin dalam.
Dunia kini menyaksikan kembali bagaimana Gaza terus menjadi medan perang tanpa akhir. Pertanyaannya, sampai kapan tragedi ini akan terus berulang?
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi JurnalLugas.Com.






