Gempa Myanmar Kiamat Kecil Ribuan Jiwa Melayang Junta Status Darurat

JurnalLugas.Com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3), dengan pusat gempa terletak di Sagaing. Getaran kiamat kecil sangat kuat, akibat bencana ini tidak hanya terasa di seluruh Myanmar, tetapi juga mencapai Thailand, Laos, Taiwan, hingga China.

Ribuan Korban dan Deklarasi Status Darurat

Gempa tersebut menewaskan lebih dari seribu orang di Myanmar, sementara di Bangkok, Thailand, data sementara menunjukkan delapan korban jiwa. Akibat parahnya dampak gempa, Junta Militer Myanmar segera mendeklarasikan status darurat di enam wilayah yang terdampak paling parah, yaitu Sagaing, Mandalay, Magway, Northeastern Shan State, Naypyidaw, dan Bago.

Bacaan Lainnya

Infrastruktur Runtuh dan Kerusakan Parah

Sejumlah video yang beredar di media sosial menunjukkan kehancuran besar. Bandara Internasional Mandalay mengalami kerusakan berat, dengan plafon yang runtuh dan kepanikan melanda para pengunjung serta pekerja. Kampus Mandalay University pun mengalami kerusakan serius, dengan gedung utama yang ambruk dan terbakar.

Di ibu kota Naypyidaw, menara pengawas (ATC) di bandara utama runtuh seketika pasca gempa. Rumah sakit di Myanmar pun kewalahan menangani korban yang mengalami luka akibat tertimpa reruntuhan.

Baca Juga  Mabes TNI Kirim Tim SAR dan Medis ke Myanmar

Salah satu struktur bersejarah yang ikut terdampak adalah Jembatan Ava yang menghubungkan Sagaing dan Mandalay. Dibangun pada era kolonial Inggris di atas Sungai Irrawaddy, jembatan tersebut mengalami kerusakan signifikan. Selain itu, Biara Maha Aungmye Bonzan, yang dibangun pada 1818 dan menjadi salah satu destinasi wisata populer, juga mengalami kerusakan parah pada bagian atapnya.

Getaran Terasa di Thailand, Laos, Taiwan, dan China

Thailand menjadi salah satu negara dengan dampak cukup besar akibat gempa ini. Sebuah gedung yang masih dalam tahap pembangunan di Distrik Chatuchak, Thailand, ambruk dalam hitungan detik. Getaran gempa juga terasa hingga ke Laos, Taiwan, dan China, meskipun belum ada laporan signifikan terkait korban jiwa di wilayah-wilayah tersebut.

Patahan Sagaing: Sumber Bencana yang Mengancam

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa ini berasal dari Sesar Besar Sagaing dengan kedalaman 10 kilometer. Tidak hanya satu, wilayah Sagaing diguncang dua gempa dalam waktu yang berdekatan, yaitu magnitudo 7,7 dan 6,2 yang terjadi 12 menit setelahnya.

Jurnal yang ditulis oleh Pyae Sone Aung dan kawan-kawan pada 2015 serta diterbitkan oleh ScienceDirect menjelaskan bahwa Patahan Sagaing memiliki panjang 1.200 kilometer dan melintasi banyak daerah di Myanmar. Patahan ini diketahui sebagai sumber utama berbagai gempa bumi di Myanmar, sehingga sejak 2011, pemerintah Myanmar telah membangun jaringan GPS untuk memantau aktivitas seismik di wilayah tersebut.

Baca Juga  Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Sarmi Papua Dini Hari

Fenomena Gempa Kembar dan Dampak Global

Direktur Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa yang terjadi di Myanmar merupakan gempa kembar, yaitu dua gempa dengan magnitudo hampir sama dalam rentang waktu dan lokasi yang berdekatan.

Fenomena ini pernah terjadi sebelumnya di Michoacan, Meksiko, pada 1985. Saat itu, meskipun pusat gempa berjarak 350 kilometer dari Meksiko City, kota tersebut mengalami kerusakan hebat dan mengakibatkan 9.500 korban jiwa karena berdiri di atas tanah reklamasi.

Respons Internasional dan Belasungkawa

Negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah menyampaikan belasungkawa atas bencana ini. Presiden RI, Prabowo Subianto, melalui akun resminya di media sosial X, menegaskan bahwa Indonesia siap memberikan bantuan bagi Myanmar dan Thailand dalam upaya pemulihan pascagempa.

Untuk berita lebih lanjut, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait