JurnalLugas.Com – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menghidupkan rencana kuasi reorganisasi sebagai strategi untuk menghapuskan saldo defisit dalam laporan keuangannya. Agenda ini akan dibawa dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 2 Juni 2025.
Rencana korporasi tersebut mendapat sambutan hangat dari pasar. Saham BUMI tercatat melonjak hingga 6 persen ke level Rp106 pada sesi pembukaan perdagangan Selasa, 22 April 2025. Lonjakan ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek keuangan perusahaan pasca penghapusan defisit.
Menurut manajemen, langkah kuasi reorganisasi bertujuan untuk menciptakan transparansi yang lebih baik mengenai kondisi finansial terkini. Dengan demikian, BUMI bisa fokus melanjutkan bisnis tanpa dibayangi defisit dari tahun-tahun sebelumnya.
“Aksi ini akan memperkuat posisi ekuitas dan memungkinkan perseroan untuk lebih fleksibel dalam pengelolaan usaha,” jelas pihak manajemen, Selasa (22/4/2025).
Kuasi Reorganisasi: Strategi Perbaikan Ekuitas dan Daya Tarik Investasi
Salah satu dampak positif dari kuasi reorganisasi adalah perbaikan struktur modal melalui penghapusan akumulasi rugi dengan memanfaatkan saldo agio saham. Eliminasi defisit ini membuka peluang bagi BUMI untuk mulai membagikan dividen kepada pemegang saham di masa mendatang.
“Dengan tidak adanya saldo defisit, kami berpotensi membagikan dividen sesuai ketentuan yang berlaku. Ini tentu menjadi nilai tambah bagi investor yang ingin berinvestasi di saham BUMI,” ungkap manajemen.
BUMI sejatinya sempat merencanakan kuasi reorganisasi pada tahun 2024, namun rencana itu urung terlaksana. Kini, perusahaan merasa lebih siap secara fundamental berkat perbaikan kinerja keuangan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Fondasi Finansial yang Lebih Kuat
Sejak tahun 2016, BUMI secara umum menunjukkan kinerja yang positif, kecuali pada tahun 2020. Pada 2024, laba bersih perseroan bahkan mencapai USD90 juta—menandakan pengelolaan usaha yang semakin stabil dan efisien.
Salah satu beban terbesar yang selama ini mempengaruhi profitabilitas adalah bunga atas utang PKPU. Namun, beban ini telah diselesaikan sejak Oktober 2022. Dengan tidak adanya lagi tekanan dari sisi non-operasional, BUMI optimistis bisa melaju lebih kencang ke depan.
“Selama tiga tahun berturut-turut, laporan keuangan kami mencatat laba operasional yang konsisten. Ini adalah bukti bahwa BUMI memiliki prospek bisnis jangka panjang yang menjanjikan,” ujar manajemen.
Langkah kuasi reorganisasi yang akan diambil ini menjadi sinyal kuat bahwa BUMI serius dalam menjaga kesehatan finansial dan meningkatkan nilai perusahaan di mata investor.
Untuk berita ekonomi, bisnis, dan korporasi terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.com.






