JurnalLugas.Com – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada awal perdagangan Selasa pagi (6/5) di pasar spot Jakarta. Rupiah dibuka melemah tipis sebesar 14 poin atau setara 0,08 persen ke posisi Rp16.468 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp16.455 per dolar AS.
Pelemahan mata uang Garuda ini mencerminkan sentimen pasar yang masih terpengaruh oleh dinamika eksternal, termasuk ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed serta data ekonomi global yang terus bergerak dinamis.
Analis pasar uang menilai, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. “Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS masih menjadi penekan utama terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah,” ujar seorang analis dari salah satu bank swasta nasional.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati kondisi fiskal dan stabilitas politik menjelang transisi pemerintahan baru yang bisa memengaruhi arus modal asing ke Indonesia.
Meski begitu, Bank Indonesia (BI) terus menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai intervensi di pasar valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Dengan tren ini, pelaku pasar disarankan tetap mewaspadai volatilitas pasar serta mencermati indikator ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Untuk perkembangan berita ekonomi dan politik terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.com.






