JurnalLugas.Com – Upaya pengendalian penyakit demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Jakarta Barat terus menunjukkan hasil signifikan. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat telah menyelesaikan distribusi bibit nyamuk Aedes aegypti yang mengandung bakteri Wolbachia di seluruh wilayah Kecamatan Kembangan.
Penyebaran tahap akhir dilakukan di Kelurahan Meruya Selatan, Jumat (9/5), dengan menempatkan sebanyak 811 ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di 11 lingkungan RW. Dengan ini, Kecamatan Kembangan resmi menjadi wilayah yang telah sepenuhnya mendapatkan intervensi inovatif pengendalian DBD tersebut.
“Kelurahan Meruya Selatan menjadi titik terakhir dalam penyebaran bibit nyamuk Wolbachia di Kembangan,” ungkap Kepala Puskesmas Kecamatan Kembangan, Rosvita Nur Aini, pada Sabtu, 10 Mei 2025.
Libatkan Komunitas dan Akademisi
Menurut Rosvita, program ini dijalankan secara kolaboratif dengan melibatkan unsur kelurahan, Kementerian Kesehatan, serta tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Setiap ember berisi telur nyamuk yang ditempatkan di rumah-rumah warga yang ditunjuk sebagai orang tua asuh (OTA).
Totalnya, ada 811 OTA yang aktif dari target awal sebanyak 847. Mereka diberikan tugas penting untuk memantau perkembangan telur nyamuk selama dua minggu, didampingi oleh kader jumantik, petugas PPSU, serta tim surveilans dari puskesmas.
“Setiap dua pekan, telur nyamuk akan diganti. Ember yang digunakan berisi 200 hingga 600 telur nyamuk Aedes aegypti yang menempel pada kain panel dan diberi pakan pelet,” jelas Rosvita.
Strategi Inovatif Kendalikan DBD
Pendekatan dengan nyamuk ber-Wolbachia dikenal sebagai strategi mutakhir dalam pengendalian DBD. Wolbachia adalah bakteri alami yang dapat menghambat replikasi virus dengue dalam tubuh nyamuk, sehingga menekan potensi penularan penyakit ke manusia.
Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Lina Choridah, mengungkapkan bahwa DBD masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia.
“Dulu, DBD dianggap sangat menakutkan, bahkan oleh tenaga medis, karena tingkat kematiannya tinggi. Namun kini, berkat teknologi nyamuk pintar seperti Wolbachia, kita mulai melihat penurunan kasus dan kematian,” ujarnya.
Lina juga mengingatkan bahwa proses ini tidak instan. Layaknya merawat boneka Kawaguchi dari Jepang, nyamuk Wolbachia perlu dirawat dan dipantau selama 6 hingga 8 bulan agar hasilnya optimal.
“Kami berharap, dengan dukungan penuh masyarakat, implementasi Wolbachia bisa terus berjalan dan berhasil menekan angka kasus demam berdarah,” pungkasnya.
Untuk informasi dan berita lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






