Trump Ancam Elon Musk Kontrak Starlink Bisa Putus Jika Dukung Demokrat

JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald J. Trump, secara terbuka mengonfirmasi bahwa hubungannya dengan miliarder teknologi Elon Musk telah berakhir. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan politik yang melibatkan dukungan Musk terhadap kelompok oposisi dari Partai Demokrat.

Dalam pernyataannya kepada awak media, Trump memperingatkan adanya “konsekuensi serius” jika Musk memutuskan untuk mendanai kandidat dari Partai Demokrat yang menentang agenda ekonomi Trump, khususnya terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak dan pengeluaran pemerintah yang saat ini tengah menuai perdebatan di Kongres.

Bacaan Lainnya

Meski enggan menjelaskan detail soal konsekuensi tersebut, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak berencana memperbaiki relasi dengan CEO Tesla dan SpaceX tersebut.
“Saya kira begitu, ya,” jawab Trump ketika ditanya apakah hubungannya dengan Elon Musk benar-benar berakhir.
“Saya tidak berniat berbicara dengannya,” tambahnya singkat.

Namun begitu, Trump belum memberi sinyal untuk membatalkan kontrak pemerintah AS dengan dua perusahaan besar milik Musk—Starlink dan SpaceX. Kedua entitas itu masih memiliki peran strategis dalam infrastruktur teknologi dan eksplorasi luar angkasa Amerika Serikat.

Baca Juga  Akibat Ambisi Trump, AS Boncos Kerugian Militer Capai Rp33 Triliun dalam 4 Hari Serangan Iran

Perseteruan Politik Meningkat

Ketegangan antara Trump dan Musk mencapai puncaknya dalam sepekan terakhir. Musk menyebut RUU versi Trump sebagai “kekejian yang menjijikkan”, sebuah kritik pedas yang memperkeruh suasana di tengah upaya Partai Republik untuk mengamankan suara mayoritas di Senat.

RUU yang baru-baru ini lolos tipis di Dewan Perwakilan Rakyat kini berada di tangan Senat. Meskipun Partai Republik memiliki kendali, tipisnya margin membuat dukungan internal menjadi sangat penting. Kritik dari tokoh sebesar Elon Musk dinilai sebagai ancaman serius terhadap keberhasilan legislasi ini.

Menurut laporan analis anggaran independen, RUU tersebut berpotensi menambah beban utang nasional AS sebesar US\$2,4 triliun dalam satu dekade ke depan. Hal ini mendorong kekhawatiran dari berbagai kalangan, termasuk para anggota legislatif konservatif yang cenderung ketat dalam pengelolaan fiskal.

Elon Musk Dorong Alternatif Politik

Di sisi lain, Elon Musk juga memanfaatkan momen ini untuk menyuarakan pandangan politik yang lebih moderat. Dalam pernyataan publik, Musk menyerukan lahirnya partai politik baru yang bisa “mewakili 80% suara masyarakat di tengah”—sebuah ajakan yang dinilai sebagai bentuk frustrasi terhadap polarisasi politik AS saat ini.

Baca Juga  CENTCOM Klaim 11 Kapal Iran di Teluk Oman Hancur, Teheran Dingin

Trump Optimis RUU Lolos Sebelum 4 Juli

Meski mendapat penolakan dari tokoh sekelas Elon Musk, Trump tetap percaya diri bahwa RUU pajak dan pengeluarannya akan disahkan sebelum Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli mendatang.
“Faktanya, ya, orang-orang yang tadinya akan memberikan suaranya kini dengan antusias akan memberikan suaranya,” ungkap Trump, menandakan adanya gelombang dukungan dari kalangan Partai Republik.

Situasi ini menandai babak baru dalam dinamika kekuasaan antara elite politik dan pengusaha teknologi di Amerika. Putusnya hubungan Trump dan Musk berpotensi mengubah lanskap dukungan politik jelang pemilihan umum berikutnya.

Ikuti perkembangan politik internasional terkini hanya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait