Merger Grab-GoTo Danantara Tawarkan Investasi Lawan Monopoli Asing

JurnalLugas.Com — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) dikabarkan sedang menjajaki peluang investasi strategis menyusul mencuatnya kembali isu merger antara dua raksasa teknologi Asia Tenggara, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab Holdings.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Danantara tengah berada dalam tahap awal diskusi dengan pihak GoTo, dengan opsi untuk mengakuisisi saham minoritas di perusahaan hasil merger yang tengah dibahas. Langkah ini disebut-sebut sebagai strategi jangka panjang dalam menjaga dominasi kepemilikan nasional di sektor teknologi digital Indonesia.

Bacaan Lainnya

Redam Kekhawatiran Monopoli Asing

Keterlibatan Danantara dalam pembicaraan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Indonesia dikabarkan menaruh perhatian besar terhadap potensi dominasi asing jika Grab—perusahaan yang berbasis di Singapura—mengambil alih penuh GoTo. Investasi dari Danantara dinilai sebagai solusi kompromi agar kontrol nasional tetap terjaga, meski terjadi konsolidasi besar antar entitas teknologi.

Baca Juga  Borong 50 Pesawat Boeing, Danantara Hitung Skema Modal Cicilan dan Antrean Global

“Danantara bisa menjadi penjaga kedaulatan ekonomi digital nasional di tengah dinamika regional,” ungkap seorang sumber terpercaya yang mengetahui jalannya diskusi, namun enggan disebutkan namanya.

Rencana Merger yang Tak Kunjung Padam

Rumor soal penggabungan Grab dan GoTo sejatinya bukan cerita baru. Isu ini pertama kali mengemuka pada akhir 2020, ketika keduanya sama-sama beroperasi sebagai pemain besar di sektor ride-hailing dan layanan pesan-antar makanan. Namun kala itu, Gojek lebih memilih merger domestik dengan Tokopedia yang melahirkan entitas GoTo Group.

Memasuki 2025, kabar merger kembali menguat. Kedua perusahaan disebut sedang menjajaki berbagai skenario kerja sama, termasuk opsi akuisisi oleh Grab terhadap GoTo. Sumber-sumber industri menyebutkan bahwa skema yang ditawarkan beragam, mulai dari pembayaran tunai, pertukaran saham, hingga kombinasi keduanya.

Hingga artikel ini ditulis, baik pihak GoTo maupun Danantara belum memberikan pernyataan resmi terkait potensi investasi maupun rencana merger.

Baca Juga  Gabung BPI Danantara Ketua KPK Tegas Tak Mau Gaji Sepeserpun

Dampak Besar bagi Ekosistem Digital Nasional

Jika merger ini benar-benar terjadi, lanskap ekonomi digital Indonesia dipastikan akan mengalami pergeseran besar. Selain memunculkan satu entitas teknologi dengan jangkauan regional yang sangat luas, penggabungan ini juga berpotensi memperkuat daya saing menghadapi kompetitor global seperti Sea Group dan TikTok.

Namun, pengamat menilai perlu adanya pengawasan ketat dari otoritas persaingan usaha agar penggabungan ini tidak merugikan pelaku usaha kecil maupun konsumen.

Ikuti terus perkembangan terbaru seputar dunia investasi dan teknologi hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait