JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah memveto rencana Israel yang ingin mengeksekusi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menurut laporan sejumlah media internasional, Minggu (15/6). Langkah veto ini menandai sikap berhati-hati Washington di tengah meningkatnya tensi antara Israel dan Iran.
Seorang pejabat senior AS mengungkapkan bahwa Israel memiliki peluang strategis untuk menghabisi Khamenei pasca serangan besar-besaran yang diluncurkan ke wilayah Iran pada Jumat (13/6). Namun, Trump secara pribadi menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahwa membunuh pemimpin spiritual tertinggi Iran “bukan ide yang bagus.”
Pernyataan itu belum dibantah secara gamblang oleh Netanyahu. Saat ditanya wartawan mengenai kabar plot pembunuhan tersebut, ia hanya menjawab diplomatis, “Terdapat begitu banyak laporan palsu terkait percakapan yang tidak pernah dilakukan, dan saya tidak akan membahasnya.”
Di balik layar, berbagai sumber menyebutkan bahwa pejabat tinggi AS dan Israel terus melakukan komunikasi intensif sejak serangan udara besar-besaran terhadap fasilitas militer Iran dimulai. Washington tetap menjaga jarak secara militer, namun membuka pintu kemungkinan dukungan di masa depan.
Trump Beri Ultimatum 60 Hari kepada Iran
Dalam wawancara eksklusif dengan media pada hari yang sama, Trump menegaskan bahwa AS saat ini tidak terlibat langsung dalam aksi militer Israel terhadap Iran. Namun, ia menyatakan kemungkinan keterlibatan AS tidak tertutup di masa mendatang.
“Kami tidak terlibat dalam hal itu. Mungkin kami bisa saja terlibat. Namun, saat ini kami tidak terlibat,” ujar Trump tegas.
Trump juga mengungkap bahwa dirinya telah memberikan ultimatum kepada Iran: 60 hari untuk menyepakati jalan keluar damai terkait isu nuklir. Meski demikian, ia tidak menetapkan batas waktu baru setelah serangan terjadi.
“Saya melihat masih ada peluang bagus untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” kata Trump sebelum bertolak ke Kanada menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7.
Perundingan Nuklir Batal Digelar di Oman
Putaran keenam perundingan tidak langsung antara AS dan Iran terkait program nuklir yang sejatinya dijadwalkan berlangsung di Muscat, Oman, pada Minggu itu, batal digelar. Pembatalan dilakukan menyusul serangan mendadak yang dilakukan Israel terhadap beberapa target strategis milik Iran.
Situasi geopolitik di Timur Tengah pun kembali memanas. Sementara Israel bersikeras bertindak atas dasar keamanan nasional, Iran menyebut serangan itu sebagai bentuk agresi terbuka. Dalam beberapa hari ke depan, komunitas internasional diperkirakan akan menyoroti lebih lanjut apakah konflik ini akan terus melebar, atau mereda melalui diplomasi global yang lebih kuat.
Baca berita selengkapnya hanya di JurnalLugas.Com






