AS di Balik Layar Serangan Zionis Israel ke Iran Bukti Tel Aviv Negara Proxy

JurnalLugas.Com – Serangan udara brutal yang dilancarkan Zionis Israel ke jantung wilayah Iran membuka babak baru dalam konflik kawasan. Namun, di balik klaim keberhasilan Israel menguasai udara Iran, tersingkap kenyataan mencolok: Tel Aviv bukanlah pemain utama, melainkan aktor bayangan dari panggung besar yang dikendalikan Amerika Serikat.

Dominasi udara yang diklaim Israel, dengan menghancurkan fasilitas nuklir, pangkalan rudal, hingga tokoh-tokoh penting militer Iran, sejatinya tidak mungkin terjadi tanpa dukungan penuh dari Washington. Israel hanyalah tangan panjang dari kepentingan geopolitik AS di Timur Tengah, menjadi negara boneka yang bergerak sesuai naskah dari Pentagon.

Bacaan Lainnya

“Kontrol udara atas Iran adalah perubahan besar dalam permainan,” kata PM Benjamin Netanyahu, Rabu (18/6/2025).

Namun, para analis keamanan meyakini dominasi ini hanyalah efek dari infrastruktur militer Amerika yang tertanam dalam setiap inci pergerakan Israel. Serangan yang presisi terhadap fasilitas sensitif Iran, termasuk lokasi produksi sentrifus di Karaj dan Pusat Penelitian Teheran, menunjukkan adanya kecanggihan yang jauh melampaui kapasitas militer Tel Aviv sendiri.

Wajah Sejati dari Kolaborasi Militer

Militer Israel menyebut operasi udara ini sebagai “loncatan strategis.” Tetapi sumber intelijen Barat menyebut serangan tersebut sangat tergantung pada logistik dan teknologi AS, termasuk pengiriman besar-besaran bom penghancur bunker yang tiba pada April lalu. Tidak hanya itu, laporan menyebut pasukan khusus Mossad turut diperkuat oleh pelatihan dan informasi dari jaringan intelijen Amerika.

Jet-jet tempur Israel, seperti F-35, F-16, dan F-15 yang digunakan dalam misi ini, semuanya merupakan buatan AS. Bahkan, kemampuan perang elektronik yang memungkinkan pesawat menembus sistem pertahanan Iran merupakan bagian dari kecanggihan militer Amerika yang dipinjamkan kepada sekutunya.

Kehancuran Iran dan Kepentingan AS

Tak dapat disangkal, Amerika Serikat memiliki kepentingan besar untuk menahan pengaruh Iran di kawasan, terutama setelah tumbangnya Bashar al-Assad di Suriah yang selama ini menjadi rekan dekat Teheran. Dengan memanfaatkan Israel, AS dapat menyerang Iran tanpa perlu menanggung beban politik dan militer secara langsung.

Barin Kayaoglu, analis pertahanan Turki, menyebut bahwa serangan Israel berhasil karena “militer Iran seperti tertidur di kemudi.” Namun, ia juga menegaskan bahwa mempertahankan ritme serangan dalam jangka panjang akan sangat tergantung pada suplai amunisi dan dukungan teknis dari Amerika.

Lebih jauh, Andreas Krieg dari King’s College London menegaskan bahwa Israel mungkin membutuhkan lebih dari sekadar serangan udara. “Bahkan bom bunker terbesar milik AS bisa saja tidak cukup menembus fasilitas terdalam Iran. Operasi darat kemungkinan diperlukan,” ujarnya.

Perang Proxy: Strategi Lama, Wajah Baru

Perang ini bukan semata konflik antara Israel dan Iran. Ini adalah bagian dari strategi lama Amerika Serikat dalam mengontrol Timur Tengah melalui negara proxy. Israel memainkan peran pelaksana, menampilkan diri sebagai kekuatan dominan, sementara keputusan strategis tetap berada di tangan Washington.

Mantan pejabat keamanan Israel bahkan mengakui, hanya AS yang punya kapasitas menghantam situs nuklir Iran paling terlindungi seperti Fordow. Artinya, meski Israel membombardir Iran dengan segala kemampuannya, keberhasilan strategis tetap menggantung pada restu dan intervensi militer Amerika.

Boneka dalam Bayang-Bayang Hegemoni

Serangan udara Israel ke Iran memperlihatkan satu hal yang jelas: Zionis Israel bukan kekuatan independen, tetapi alat geopolitik Amerika untuk menegakkan hegemoni di Timur Tengah. Seolah mengulang sejarah, perang proxy kembali dimainkan, dengan nyawa rakyat sipil dan stabilitas regional sebagai taruhannya.

Untuk berita dan analisis tajam lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Khamenei Trump Lebay soal Serangan Nuklir Gempuran AS Tak Sesuai Fakta

Pos terkait