Harga Emas Dunia Anjlok 1% Akibat Optimisme Dagang AS Investor Waspada Risiko The Fed

JurnalLugas.Com — Harga emas dunia tertekan signifikan akibat meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan sejumlah mitra utamanya. Dalam sesi perdagangan Selasa, logam mulia itu melemah lebih dari 1 persen, seiring penguatan dolar dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang turut menekan daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Berdasarkan data terkini, harga emas spot (XAU/USD) tercatat turun 1,04 persen ke level USD3.301,72 per ons troi. Penurunan ini melanjutkan tren negatif sebelumnya, di mana emas sempat menyentuh posisi terendah dalam lebih dari sepekan terakhir.

Bacaan Lainnya

Sentimen Risk-On Redupkan Kilau Emas

Pasar global kini tengah mengadopsi sentimen “risk-on” atau berani mengambil risiko, seiring dengan tanda-tanda meredanya ketegangan perdagangan antara AS dan negara-negara mitranya, termasuk Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara tersebut mengumumkan pada Selasa bahwa mereka tengah mengupayakan dialog diplomatik intensif dengan Washington guna menangguhkan atau bahkan membatalkan rencana kenaikan tarif ekspor yang akan diberlakukan mulai awal Agustus.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya kembali menghidupkan tensi perang dagang dengan mengirimkan sinyal keras kepada 14 negara bahwa tarif ekspor ke AS akan dinaikkan secara signifikan. Meski ancaman itu dijadwalkan berlaku efektif mulai 1 Agustus 2025, jeda waktu selama tiga pekan membuka ruang negosiasi yang dimanfaatkan sejumlah negara untuk meredam dampaknya terhadap perdagangan internasional.

“Fokus utama pelaku pasar saat ini adalah perkembangan negosiasi dagang, terlebih menjelang tenggat penting pada 9 Juli. Sementara tekanan dari pemerintahan Trump terus meningkat, sebagian besar pelaku pasar mulai optimistis akan adanya titik temu dalam kesepakatan dagang,” ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus analis senior logam di Zaner Metals.

Ia menambahkan, optimisme tersebut mendorong pelaku pasar keluar dari instrumen safe haven seperti emas, dan beralih ke aset berisiko yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi, seperti saham dan mata uang.

Baca Juga  Update Harga Emas Batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Hari Ini

Dolar dan Imbal Hasil Obligasi AS Menguat

Tekanan terhadap emas juga datang dari menguatnya nilai tukar dolar AS. Indeks dolar (DXY) naik tipis sebesar 0,1 persen, yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mengalami kenaikan, bahkan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua pekan. Ini menjadi faktor negatif tambahan bagi emas, karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil (yield).

Ketika yield obligasi naik, investor cenderung mengalihkan portofolio mereka dari aset non-yield seperti emas ke obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap prospek ekonomi AS yang tetap kuat, di tengah kebijakan tarif Presiden Trump yang berisiko menambah tekanan inflasi.

The Fed Jadi Sorotan Utama

Pelaku pasar juga menanti perkembangan dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan akan merilis risalah rapat kebijakan terbarunya pada Rabu (9/7). Risalah tersebut akan menjadi panduan penting bagi investor untuk memahami arah kebijakan moneter AS ke depan.

Beberapa pejabat The Fed juga dijadwalkan menyampaikan pidato dalam pekan ini, yang dapat memberikan wawasan lebih jauh mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga atau tetap mempertahankan kebijakan ketat dalam menghadapi risiko inflasi.

“Dengan ancaman inflasi yang masih membayangi sebagai konsekuensi dari tarif impor baru, The Fed kemungkinan besar akan menunda rencana pemangkasan suku bunga hingga setidaknya tahun depan,” kata Hamad Hussain, ekonom komoditas dan iklim dari Capital Economics.

Menurutnya, kondisi ini dapat memperpanjang tekanan terhadap harga emas dalam jangka menengah, karena bunga tinggi cenderung tidak bersahabat bagi logam mulia.

Proyeksi Investor terhadap Suku Bunga

Sejauh ini, pasar masih memproyeksikan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin pada akhir 2025. Namun, waktu dimulainya pelonggaran moneter tersebut diperkirakan baru akan terjadi sekitar bulan Oktober, jika kondisi ekonomi mendukung.

Baca Juga  Harga Emas Hari Ini Antam & Galeri24 Merosot UBS Justru Naik

Ekspektasi tersebut mencerminkan kehati-hatian investor dalam membaca arah kebijakan bank sentral AS di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Dalam kondisi saat ini, emas menghadapi tekanan ganda dari kebijakan moneter yang cenderung hawkish dan pergeseran sentimen pasar ke arah risk-on.

Di Indonesia, pergerakan harga emas dunia ini juga berpotensi memengaruhi harga emas batangan lokal seperti Antam dan UBS. Dengan tren penurunan harga global, harga jual kembali (buyback) emas kemungkinan akan mengalami penyesuaian dalam beberapa hari ke depan.

Meski demikian, masyarakat disarankan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi emas, mengingat volatilitas yang tinggi serta pengaruh eksternal yang kuat dari kebijakan global, terutama dari Amerika Serikat.

Analis lokal memperkirakan bahwa selama belum ada kejelasan arah kebijakan suku bunga The Fed dan hasil negosiasi dagang, harga emas akan bergerak fluktuatif di kisaran USD3.250–USD3.350 per ons troi.

Harga emas global saat ini berada dalam tekanan akibat kombinasi dari sentimen perdagangan yang membaik, penguatan dolar AS, serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Sentimen pasar yang bergeser ke aset berisiko dan ekspektasi bahwa The Fed akan menunda pelonggaran moneter semakin memperlemah daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai. Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk mencermati perkembangan kebijakan ekonomi global secara seksama sebelum mengambil langkah investasi.

Baca berita lengkap dan tajam lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait