Harga Emas Dunia Anjlok, Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi Jadi Pemicu Utama

JurnalLugas.Com — Harga emas dunia mengalami tekanan tajam pada perdagangan akhir pekan setelah penguatan dolar Amerika Serikat dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat investor mulai menjauh dari aset logam mulia. Kondisi tersebut memicu aksi jual besar-besaran di pasar global dan menyeret harga emas ke level terendah dalam lebih dari sepekan.

Pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026, harga emas spot tercatat turun hingga 2,37 persen ke posisi USD4.539,99 per troy ons. Penurunan itu sekaligus memperpanjang tren pelemahan mingguan emas yang telah terkoreksi sekitar 3,73 persen dalam sepekan terakhir.

Bacaan Lainnya

Tekanan terhadap emas muncul di tengah menguatnya indeks dolar AS yang membuat harga logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga meningkatkan daya tarik instrumen berbasis bunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga  Harga Emas Pegadaian Antam UBS dan Galeri24 Kompak Anjlok Dua Hari Beruntun

Analis pasar logam dari Marex, Edward Meir, menilai pergerakan pasar saat ini dipicu kombinasi faktor global yang saling berkaitan.

“Ada tekanan jual pada hampir seluruh logam mulia. Penguatan dolar berlangsung cukup kuat dan imbal hasil obligasi global ikut naik,” ujarnya.

Lonjakan imbal hasil obligasi AS terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi global. Konflik geopolitik yang melibatkan Iran dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar mulai berspekulasi bahwa bank sentral AS atau The Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kebijakan suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena investor cenderung memilih aset dengan tingkat pengembalian lebih tinggi.

Di sisi lain, beberapa analis melihat pelemahan emas saat ini sebagai respons normal pasar setelah reli panjang yang terjadi sejak awal tahun. Dalam beberapa bulan terakhir, emas sempat mencetak rekor tertinggi akibat ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik internasional.

Baca Juga  Jelang Puasa, Harga Emas Antam Hari Ini Turun, Buyback Ikut Melemah

Meski turun cukup tajam, sebagian investor masih menilai emas tetap menjadi aset lindung nilai utama di tengah kondisi ekonomi dunia yang belum stabil. Ketidakpastian perang, arah kebijakan suku bunga, hingga perlambatan ekonomi global masih menjadi faktor yang berpotensi menopang permintaan emas dalam jangka menengah.

Pasar kini menunggu data ekonomi terbaru Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed berikutnya. Jika inflasi kembali meningkat, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama diperkirakan akan semakin besar dan dapat menekan harga emas lebih dalam.

Namun apabila tekanan inflasi mulai melandai, emas berpotensi kembali diminati investor sebagai aset aman di tengah volatilitas pasar keuangan global.

Ikuti informasi ekonomi dan pergerakan harga emas terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Hans)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait