Chevron Menang Arbitrase Siap Rampungkan Akuisisi Hess Senilai Rp865 Triliun

JurnalLugas.Com– Setelah melalui proses panjang hampir dua tahun, Chevron akhirnya mendapat lampu hijau untuk menyelesaikan akuisisi penuh terhadap perusahaan pesaingnya, Hess Corporation, dengan nilai mencapai USD53 miliar atau sekitar Rp865 triliun. Keputusan final ini keluar usai panel arbitrase Kamar Dagang Internasional (ICC) di Paris mengabulkan permintaan Chevron dan menolak upaya ExxonMobil untuk memblokir transaksi tersebut.

Keputusan ICC yang diumumkan pada Jumat (18/7/2025) ini sekaligus mengakhiri salah satu perselisihan hukum terbesar dalam sejarah industri minyak dan gas global dalam setengah abad terakhir. Perebutan ini berfokus pada penguasaan saham Hess sebesar 30 persen di blok Stabroek, ladang minyak lepas pantai Guyana yang menyimpan lebih dari 11 miliar barel minyak menjadikannya salah satu temuan cadangan minyak terbesar di dunia.

Bacaan Lainnya

“Ini adalah aset yang hanya muncul sekali dalam seumur hidup,” ungkap D. Sweeney, mitra senior sektor energi di Clifford Chance, dalam wawancara Sabtu (19/7).

Kemenangan Strategis Chevron atas ExxonMobil

ExxonMobil, yang telah menjadi mitra Hess sejak 2014 dalam mengelola blok Stabroek bersama CNOOC dari Tiongkok, sempat berupaya menggagalkan transaksi Chevron. Exxon berdalih bahwa mereka memiliki hak preemptive atau hak penawaran pertama untuk mengambil alih saham Hess, sebagaimana tertuang dalam perjanjian kemitraan.

Namun, panel arbitrase ICC tidak sependapat dengan interpretasi tersebut. Dalam pernyataan resminya, Exxon menyampaikan kekecewaannya atas keputusan itu, namun menyatakan akan menghormati proses arbitrase.

Baca Juga  Saham PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) Melesat Usai Akuisisi Poh Group Investor Tunggu Right Issue

“Kami tidak setuju dengan interpretasi panel ICC tetapi menghormati proses arbitrase dan penyelesaian sengketa,” tulis perusahaan itu.

Lebih lanjut, Exxon menyebut bahwa pihaknya tetap berkomitmen untuk mempertahankan nilai yang telah dibangun melalui proyek eksplorasi Guyana, yang dimulai sejak tahap awal ketika potensi ladang tersebut belum sepenuhnya terbukti.

Guyana: Dari Negara Miskin Menjadi Raksasa Energi

Blok Stabroek di Guyana telah menjadi pusat perhatian industri energi global sejak cadangan minyaknya terungkap. Proyek ini juga secara dramatis mengubah kondisi ekonomi Guyana. Menurut data Dana Moneter Internasional (IMF) yang dirilis April 2025, negara kecil di Amerika Selatan itu kini menjadi ekonomi dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia.

Keberhasilan proyek ini tidak hanya membawa perubahan bagi negara, tetapi juga menjadi penentu bagi masa depan perusahaan-perusahaan raksasa energi. Chevron, yang sempat tertinggal dari Exxon dalam pertumbuhan bisnis selama beberapa tahun terakhir, melihat akuisisi ini sebagai momen krusial untuk mengejar ketertinggalan.

“Penggabungan dua perusahaan besar Amerika ini menyatukan yang terbaik di industri ini,” ujar Chairman sekaligus CEO Chevron, M. Wirth, dalam pernyataan resmi.

“Kombinasi ini akan memperkuat profil pertumbuhan kami hingga satu dekade ke depan dan menciptakan nilai jangka panjang yang lebih besar bagi para pemegang saham,” lanjutnya.

Chevron Kejar Ketertinggalan

Dalam beberapa tahun terakhir, Chevron tertinggal dari pesaing utamanya, ExxonMobil. Laporan keuangan menunjukkan penurunan laba dari USD24,7 miliar pada 2023 menjadi USD18,3 miliar pada 2024. Di tengah tekanan tersebut, Chevron pada Februari lalu mengumumkan akan memangkas hingga 20 persen tenaga kerjanya, atau sekitar 8.000 karyawan, sebelum akhir 2026.

Kinerja saham perusahaan pun belum secerah Exxon. Dalam lima tahun terakhir, saham Chevron tercatat tumbuh sekitar 71 persen, jauh di bawah pertumbuhan saham Exxon yang hampir menembus 150 persen.

Baca Juga  Dragonmine Akuisisi 80% Saham Berkah Prima, Bisnis BLUE Siap Bertransformasi Besar

Dengan rampungnya akuisisi Hess, Chevron berharap dapat membalikkan keadaan. Akuisisi ini bukan hanya soal ekspansi bisnis, tapi juga tentang penguasaan sumber daya energi masa depan yang sangat strategis.

Industri Energi Memasuki Babak Baru

Dengan kesepakatan ini, Chevron kini akan memegang kendali atas saham Hess di blok Stabroek, mendampingi Exxon (45 persen) dan CNOOC (25 persen). Meski tidak mengambil alih seluruh operasional, akuisisi ini memberi Chevron pengaruh besar dalam salah satu proyek eksplorasi minyak terbesar dunia.

Para analis industri menilai langkah Chevron sebagai strategi jangka panjang yang bisa mengubah peta persaingan energi global. Meski menghadapi tantangan internal, perusahaan tampak yakin bahwa langkah ini akan membuahkan hasil signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

“Kesepakatan ini mempertegas arah strategi Chevron ke depan: fokus pada cadangan raksasa dan optimalisasi aset,” ujar analis energi dari Energy Finance Institute, A. Nichols, dalam sebuah diskusi.

Dengan langkah besar ini, dunia kini menatap era baru industri energi, di mana kekuatan bukan hanya diukur dari kapasitas produksi, tetapi juga dari kendali atas cadangan strategis global yang semakin langka.

Baca berita ekonomi dan energi terkini lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait