JurnalLugas.Com — Langkah Danantara Indonesia dalam memperkuat posisi Indonesia di sektor strategis terus menjadi perhatian pelaku industri global. Badan investasi nasional tersebut kini disebut membuka peluang kerja sama lebih luas, termasuk kemungkinan mengakuisisi saham perusahaan asing yang memiliki proyek penting di Indonesia.
Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan pihaknya terbuka terhadap berbagai bentuk investasi strategis yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi ekonomi nasional.
Pernyataan itu muncul di tengah berkembangnya isu mengenai potensi akuisisi saham perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, di proyek PT Weda Bay Nickel yang berlokasi di Maluku Utara.
Menurut Rosan, Danantara siap menjadi mitra strategis lokal yang dapat memperkuat pengelolaan investasi besar di Indonesia, terutama pada sektor sumber daya alam dan hilirisasi industri.
“Pada dasarnya kami terbuka terhadap berbagai diskusi investasi strategis di Indonesia,” ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Meski demikian, ia menegaskan pembicaraan terkait potensi akuisisi masih berada pada tahap awal dan belum menghasilkan keputusan final. Danantara disebut masih melakukan penjajakan bersama sejumlah pihak terkait.
Rosan menilai keterlibatan lembaga investasi nasional dalam proyek-proyek besar dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri global, khususnya pada sektor energi baru dan kendaraan listrik.
“Kami juga terus berdiskusi dengan berbagai mitra, termasuk Eramet,” katanya.
Sektor nikel memang menjadi salah satu fokus utama investasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Cadangan nikel besar yang dimiliki Indonesia dinilai menjadi aset penting dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Sebelumnya, CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet sempat mengungkap adanya pembahasan intensif bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority atau INA terkait pembentukan platform investasi strategis sektor nikel.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem industri nikel terintegrasi mulai dari sektor hulu hingga hilir, termasuk pengembangan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, sebelumnya menyebut kemitraan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan industri EV nasional yang berkelanjutan dan kompetitif secara global.
Dalam skema kerja sama itu, Danantara dan INA diproyeksikan berperan dalam penyediaan pembiayaan jangka panjang, sementara Eramet akan menyumbangkan pengalaman teknis dan kemampuan operasional proyek tambang berskala internasional.
Analis ekonomi energi menilai keterlibatan lembaga investasi nasional dalam proyek hilirisasi nikel dapat memberikan dampak besar bagi penguatan industri domestik sekaligus meningkatkan kontrol Indonesia terhadap aset strategis.
Selain memperbesar investasi, langkah tersebut dinilai mampu mempercepat transfer teknologi dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri baterai global.
Baca berita ekonomi dan investasi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(William)






