JurnalLugas.Com – Harga emas global mencatat pelemahan tipis sepanjang pekan lalu di tengah ketidakpastian ekonomi dan tensi geopolitik yang terus meningkat. Namun, analis menilai potensi penguatan harga masih terbuka lebar pada pekan ini.
Data perdagangan Jumat (18/7/2025) menunjukkan, harga emas spot (XAU/USD) ditutup pada USD3.350,09 per ons troi, turun 0,17 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun tipis ke level USD3.352,70 per ons troi.
Pelemahan ini terjadi meskipun nilai dolar AS tertekan terhadap sejumlah mata uang utama. “Di pasar logam mulia, terjadi kenaikan secara menyeluruh berkat pelemahan dolar,” ungkap Edward Meir, analis Marex, dikutip Minggu (20/7/2025).
Sementara itu, harga emas dunia dalam satuan rupiah yang dirujuk dari perdagangan global berada pada kisaran Rp1.927.000 per gram, relatif stagnan dibanding pekan sebelumnya, seiring stabilnya kurs rupiah terhadap dolar AS.
Analis logam mulia dari Standard Chartered Bank, Suki Cooper, menilai kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS dan arah kebijakan tarif mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai. “Harga dasar emas masih cukup kuat,” ujar Suki.
Prospek Pekan Ini: Optimisme Masih Menyala
Survei mingguan Kitco mencerminkan harapan kenaikan harga emas yang tinggi dari pelaku pasar. Sebanyak 53 persen analis Wall Street memperkirakan harga emas akan naik, 40 persen memilih netral, dan hanya 7 persen bersikap bearish. Sentimen serupa juga muncul dari investor ritel, di mana 62 persen dari 223 responden memprediksi harga emas menguat.
“Tidak ada yang berubah. Ketidakpastian tetap mendominasi. Sementara itu, pertemuan FOMC berikutnya semakin dekat, dan pasar belum melihat potensi penurunan suku bunga hingga Oktober,” ujar salah satu analis senior.
Namun, analis dari Commerzbank memperingatkan bahwa momentum reli emas mulai melambat. Meskipun dolar AS sempat melemah terhadap euro, harga emas tetap tertahan di bawah level psikologis USD3.400 per ons troi. Sementara itu, harga logam mulia lain seperti perak dan platinum menunjukkan lonjakan yang lebih signifikan.
“Kondisi ini bisa menjadi indikasi bahwa investor mulai melirik alternatif selain emas,” tulis laporan analis Commerzbank.
Faktor Pendukung Masih Solid
Rich Checkan, analis dari Asset Strategies International, melihat dukungan kuat terhadap harga emas dari berbagai sisi. “Ada banyak katalis, mulai dari ketegangan geopolitik, pelemahan dolar, hingga ketidakpastian terkait masa depan Ketua The Fed,” ucapnya.
James Stanley dari Forexcom menyebut bahwa secara teknikal, emas menunjukkan respons kuat di zona support, membuka peluang untuk rebound.
Adrian Day dari Adrian Day Asset Management menyoroti kemungkinan The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi. “Jerome Powell tampaknya masih belum siap memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Setidaknya ada tiga alasan utama yang membuatnya tetap bertahan,” ujar Adrian, tanpa merinci.
Agenda Ekonomi Kunci Pekan Ini
Pekan ini, pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda penting yang bisa mempengaruhi pergerakan harga emas. Beberapa di antaranya adalah:
- Keputusan suku bunga dari Bank Sentral Eropa (ECB),
- Data penjualan rumah di Amerika Serikat,
- Klaim pengangguran mingguan,
- Indeks manufaktur,
- Laporan durable goods.
Pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan pada Selasa (22/7/2025) juga menjadi perhatian utama pasar. Pelaku pasar berharap pidato tersebut memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Dengan berbagai dinamika tersebut, emas diperkirakan tetap menjadi pilihan utama investor sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Selengkapnya berita ekonomi dan investasi bisa diakses di JurnalLugas.Com.






