PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) Boncos Rp1,84 Triliun Bisnis Limbah dan Energi Hijau Penyelamat

JurnalLugas.Com – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) resmi membukukan kerugian bersih sebesar USD115,3 juta atau setara Rp1,84 triliun (kurs Rp16.000 per USD) hingga pertengahan 2025. Laporan keuangan semester I/2025 menunjukkan angka merah ini utamanya disebabkan oleh pencatatan rugi non-kas senilai USD96,7 juta dari pelepasan dua entitas anak usaha pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yaitu PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP).

Namun, manajemen perusahaan menegaskan bahwa kerugian tersebut tidak berdampak pada likuiditas perseroan. “Transaksi divestasi justru menghasilkan tambahan kas masuk sebesar USD123,6 juta,” ujar Direktur TBS Energi Utama, J. Oktarina, Rabu (30/7/2025), dalam keterangan pers yang diterima JurnalLugas.Com.

Bacaan Lainnya

Pendapatan Menurun Tajam

Seiring dengan rugi bersih, pendapatan konsolidasi TBS juga mengalami penurunan signifikan. Dari sebelumnya USD248,7 juta pada periode yang sama tahun lalu, menjadi hanya USD172,2 juta pada semester pertama 2025. Penyusutan ini terutama dipicu oleh melemahnya sektor pertambangan batubara, yang merupakan salah satu lini utama bisnis TBS selama bertahun-tahun.

Volume penjualan batubara turun drastis dari 1,7 juta ton menjadi 0,7 juta ton. Tak hanya itu, harga jual rata-rata juga anjlok dari USD83 per ton menjadi hanya USD52,9 per ton. Fenomena ini sejalan dengan tren penurunan indeks harga batu bara global yang terus menurun sejak 2024.

“Menurunnya permintaan global serta kebijakan strategis perseroan untuk menunggu momentum harga yang lebih baik turut menyebabkan penurunan volume,” imbuh Oktarina.

Baca Juga  TOBA Terbitkan Obligasi Rp500 Miliar, Kupon hingga 8,65 Persen dan Peringkat idA

Fokus Kurangi Ketergantungan Batubara

Segmen pertambangan dan perdagangan batubara yang sebelumnya menyumbang 82 persen pendapatan kini hanya berkontribusi 53 persen atau senilai USD91,6 juta. Penurunan ini, menurut Oktarina, mencerminkan upaya nyata perusahaan dalam mengurangi ketergantungan terhadap sektor energi fosil.

“TBS tengah mempercepat pergeseran menuju bisnis yang lebih hijau, seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan kendaraan listrik,” jelasnya.

Dampak Positif Divestasi PLTU

Langkah menjual dua unit PLTU dinilai memberikan kontribusi besar dalam pengurangan emisi karbon. Tercatat, emisi berhasil ditekan hingga 1,4 juta ton setara CO₂ (tCO₂e), atau sekitar 86 persen dari total emisi tahun sebelumnya. Capaian ini menjadi pijakan penting bagi TBS dalam komitmennya mendukung agenda transisi energi nasional.

“Pengurangan emisi ini merupakan bukti konkret bahwa transformasi energi yang kami lakukan bukan sekadar wacana, tapi langkah nyata menuju masa depan yang lebih bersih,” ucap Oktarina.

Bisnis Pengelolaan Sampah Jadi Pilar Pertumbuhan

Salah satu sektor baru yang tengah menjadi tulang punggung transformasi TBS adalah bisnis pengelolaan sampah. Unit usaha ini menunjukkan kinerja positif dengan mencetak pendapatan sebesar USD59,6 juta hingga akhir Juni 2025. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) dari sektor ini mencapai USD10 juta.

“Kami memandang pengelolaan limbah sebagai elemen penting dari arah baru TBS. Selain bernilai ekonomi, bisnis ini juga berperan penting dalam menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang nyata,” ungkap Oktarina lebih lanjut.

Ia menambahkan bahwa potensi pertumbuhan bisnis pengelolaan sampah sangat besar, terlebih dengan infrastruktur dan kapabilitas yang saat ini dimiliki perusahaan. “Ke depan, kami yakin sektor ini akan menjadi penggerak utama pertumbuhan TBS secara berkelanjutan,” ujarnya.

Baca Juga  TBS Energi Terbitkan Obligasi Rp150 Miliar Danai Ekspansi Limbah Medis dan Lunasi Utang

Strategi Ke Depan: Transisi Energi dan Diversifikasi

TBS Energi Utama saat ini sedang berada di persimpangan penting dalam perjalanan bisnisnya. Di satu sisi, tantangan akibat fluktuasi harga komoditas energi fosil terus menghantui. Di sisi lain, kebutuhan untuk bertransformasi menuju bisnis ramah lingkungan semakin mendesak.

Sejumlah inisiatif telah dan sedang dikembangkan perusahaan. Selain pengelolaan sampah, TBS juga aktif menjajaki peluang di sektor energi terbarukan seperti solar panel dan kendaraan listrik sebagai bagian dari agenda net zero emission.

Transformasi ini bukan tanpa risiko. Namun dengan cadangan kas yang cukup kuat pasca divestasi, serta komitmen kuat dari jajaran manajemen, TBS percaya diri untuk menjalani babak baru ini.

Meski mencatat kerugian yang tidak sedikit, langkah PT TBS Energi Utama dalam mendivestasi PLTU dan menanamkan modal pada bisnis berorientasi lingkungan menjadi sinyal kuat transformasi yang serius. Penurunan pendapatan jangka pendek dinilai sebagai investasi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Transformasi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. TBS tampaknya sadar akan hal itu, dan kini mulai membangun fondasi bisnis baru yang tak hanya mendatangkan profit, tapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan generasi mendatang.

Baca selengkapnya berita bisnis dan energi lainnya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait