JurnalLugas.Com – Korea Utara kembali memamerkan kekuatan militernya dengan meluncurkan dua rudal pertahanan udara baru yang diklaim memiliki teknologi canggih. Uji coba tersebut berlangsung pada Sabtu (23/8/2025) dan disaksikan langsung oleh pemimpin tertinggi Pyongyang, Kim Jong-un.
Menurut laporan Korean Central News Agency (KCNA) yang dipublikasikan Minggu (24/8/2025), rudal tersebut disebut memiliki “kemampuan tempur unggul” dengan teknologi unik yang dikembangkan untuk menghadapi ancaman modern. Uji coba ini dinyatakan berhasil menghancurkan berbagai target udara, mulai dari drone hingga rudal jelajah.
Tegangan di Perbatasan
Peluncuran senjata terbaru ini hanya berselang beberapa jam setelah Korea Selatan mengonfirmasi telah menembakkan peluru peringatan terhadap sekitar 30 tentara Korea Utara yang melintasi Zona Demiliterisasi (DMZ). Insiden itu terjadi pada Selasa lalu dan semakin memperuncing ketegangan di Semenanjung Korea.
Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah mandat Amerika Serikat menilai tindakan Seoul adalah langkah pengamanan yang wajar. Namun, Pyongyang balik menuding Korea Selatan melakukan provokasi militer.
“Setiap tindakan penembakan di wilayah DMZ jelas meningkatkan risiko konflik yang tak diinginkan,” ujar seorang analis keamanan di Seoul, sebagaimana dikutip media setempat.
Latihan Militer Gabungan AS–Korsel
Situasi memanas ini juga terjadi di tengah latihan gabungan skala besar antara Korea Selatan dan Amerika Serikat yang dimulai sejak Senin lalu. Latihan rutin tahunan itu dikritik Pyongyang sebagai bentuk agresi.
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Korea Selatan yang baru terpilih, Lee Jae Myung, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Washington pekan depan. Pertemuan itu disebut krusial untuk membahas arah kebijakan antar-Korea.
Meski Lee dikenal dengan sikap moderat dan berjanji memperbaiki hubungan dengan Utara, upaya tersebut ditolak mentah-mentah oleh Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong-un. Ia menyebut tawaran rekonsiliasi Seoul tidak lebih dari “retorika kosong”.
Tekad Nuklir Pyongyang
Dalam pidato terbaru, Kim Jong-un menegaskan bahwa negaranya tidak akan berhenti mempercepat pengembangan persenjataan strategis. Ia juga mengecam latihan militer AS–Korsel sebagai “tindakan konfrontatif” yang membahayakan stabilitas kawasan.
Pada Januari lalu, Korea Utara telah menguji rudal balistik jarak menengah dengan hulu ledak hipersonik. Hal itu semakin memperkuat dugaan bahwa Pyongyang terus berupaya meningkatkan kemampuan nuklirnya.
Dugaan Keterlibatan Rusia
Kecurigaan internasional semakin menguat setelah muncul laporan bahwa Rusia memasok sistem persenjataan ke Korea Utara sebagai imbalan dukungan militer Pyongyang dalam konflik Ukraina.
Seorang mantan pejabat keamanan nasional Korea Selatan, Shin Wonsik, menyebut kerja sama itu sangat mungkin terjadi. “Ada indikasi transfer teknologi dari Moskow, meski detail pastinya belum bisa dipastikan,” ujarnya dalam wawancara dengan media Korea Selatan.
Namun, hingga kini belum ada bukti konkret bahwa rudal pertahanan udara terbaru Korea Utara menggunakan teknologi Rusia.
Korea Utara tetap menjadi salah satu negara paling tertutup dan represif di dunia. Dinasti Kim yang berkuasa selama beberapa dekade belum menunjukkan tanda-tanda akan melunak.
Sementara itu, hubungan Pyongyang dan Seoul tidak pernah benar-benar pulih sejak Perang Korea 1950–1953 berakhir hanya dengan gencatan senjata tanpa perjanjian damai. Secara teknis, kedua negara masih dalam kondisi perang hingga saat ini.
Langkah uji coba rudal terbaru semakin menambah daftar panjang eskalasi militer di kawasan. Pengamat menilai, tanpa adanya terobosan diplomatik, ketegangan di Semenanjung Korea berisiko terus berlanjut.
Baca berita terbaru lainnya hanya di 👉 JurnalLugas.Com






