JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Asia Timur kembali menghangat setelah Korea Utara melontarkan kritik tajam terhadap Jepang terkait sikap resmi Tokyo soal isu nuklir Pyongyang. Pernyataan keras ini muncul sebagai respons atas dokumen kebijakan luar negeri tahunan Jepang yang kembali menegaskan tuntutan denuklirisasi penuh terhadap Korut.
Dalam laporan yang dikenal sebagai Buku Biru Diplomatik 2026, pemerintah Jepang menyoroti kekhawatiran serius terhadap program senjata nuklir dan rudal milik Korea Utara. Tokyo menilai aktivitas tersebut sebagai ancaman nyata bagi stabilitas kawasan dan menegaskan bahwa program itu harus dihentikan sepenuhnya.
Namun, respons dari Pyongyang tidak kalah tegas. Melalui lembaga riset di bawah Kementerian Luar Negeri, Korea Utara menyebut sikap Jepang sebagai “anakronistis” dan mencerminkan pola pikir lama yang dinilai tidak relevan dengan dinamika global saat ini.
Media pemerintah Korean Central News Agency melaporkan bahwa pernyataan tersebut juga menuding Jepang memiliki “niat konfrontatif” yang semakin memperburuk hubungan bilateral. Dalam kutipan singkat, perwakilan lembaga itu menyebut, “dokumen tersebut memperlihatkan permusuhan yang terus dipelihara terhadap kedaulatan kami.”
Lebih jauh, Pyongyang menyoroti posisi Jepang yang dinilai terlalu dekat dengan Amerika Serikat. Korea Utara bahkan menyebut Tokyo sebagai “negara bawahan” Washington, yang dianggap hanya mengikuti agenda geopolitik Amerika di kawasan Asia Timur.
Seorang analis hubungan internasional yang enggan disebutkan namanya menilai, ketegangan ini bukan sekadar reaksi spontan. “Isu nuklir Korea Utara selalu menjadi titik sensitif. Jepang konsisten menekan, sementara Pyongyang melihatnya sebagai ancaman terhadap legitimasi strategis mereka,” ujarnya.
Konflik narasi ini memperlihatkan bahwa persoalan denuklirisasi masih jauh dari titik temu. Jepang, sebagai sekutu utama Amerika Serikat di Asia, tetap berada di garis depan dalam mendesak perlucutan senjata nuklir Korea Utara. Di sisi lain, Pyongyang terus mempertahankan posisinya sebagai negara berkekuatan nuklir yang berdaulat.
Situasi ini menambah daftar panjang ketegangan di kawasan yang selama ini sudah dipenuhi dinamika kompleks, mulai dari uji coba rudal hingga manuver militer. Tanpa adanya dialog terbuka dan pendekatan diplomatik yang lebih fleksibel, konflik retoris seperti ini berpotensi berkembang menjadi ketegangan yang lebih serius.
Di tengah kondisi global yang semakin tidak menentu, dunia kini kembali menyoroti Asia Timur sebagai salah satu titik panas geopolitik yang perlu diwaspadai.
Baca selengkapnya di: https://JurnalLugas.Com
(HD)






