JurnalLugas.Com — Jumlah korban tewas akibat gempa dahsyat yang melanda Afghanistan bagian timur pada Minggu malam terus bertambah. Hingga Selasa, 2 September 2025, juru bicara pemerintahan sementara, Zabihullah Mujahid, melaporkan korban tewas sudah melebihi 1.400 orang.
Sedikitnya 3.251 warga dilaporkan terluka di empat provinsi timur, sementara lebih dari 8.000 rumah rusak berat. Bulan Sabit Merah Afghanistan memperingatkan bahwa masih banyak korban yang terjebak di bawah reruntuhan, dan upaya penyelamatan terus berjalan.
Provinsi Kunar menjadi wilayah paling terdampak. Menurut data lokal, 1.411 orang meninggal dunia, 3.124 terluka, dan 5.412 rumah hancur. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah seiring otoritas setempat merilis data dari provinsi lain, termasuk Nangarhar, Laghman, dan Panjshir.
Gempa ini merupakan yang ketiga kalinya melanda Afghanistan sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021. Badan Survei Geologi AS (USGS) mencatat gempa terjadi pukul 23.47 waktu setempat (1917 GMT) dengan pusat gempa 27 kilometer timur laut Jalalabad pada kedalaman 8 kilometer. Guncangan terjadi saat banyak warga tengah tidur, sehingga memperparah jumlah korban.
Di Kunar, sejumlah desa hancur total. Abdul Ghani, juru bicara provinsi, mengatakan tim penyelamat telah tiba di lokasi sejak Senin. “Korban jiwa kemungkinan akan terus bertambah karena masih banyak yang terperangkap di reruntuhan,” katanya. Ia menambahkan, puluhan rumah luluh lantak di distrik Nur Gal, Sawki, Watpur, Manogi, dan Chapa Dara.
Pemerintahan sementara Afghanistan telah mengirim bantuan dan tim medis ke daerah terdampak sejak Senin. Ghani menegaskan, bantuan tambahan masih dalam perjalanan dari Kabul untuk mempercepat penanganan darurat.
Respons internasional juga mulai mengalir. Beberapa negara, termasuk Pakistan, Iran, China, India, serta sejumlah negara Barat, menyatakan siap mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi korban gempa.
Para ahli memperingatkan bahwa wilayah pegunungan di timur Afghanistan rawan gempa, dan infrastruktur yang rapuh membuat dampak bencana menjadi lebih parah. Hingga saat ini, upaya evakuasi dan pencarian korban masih menjadi prioritas utama pihak berwenang dan lembaga kemanusiaan.
Gempa ini meninggalkan tantangan besar bagi Afghanistan, di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan keterbatasan fasilitas medis. Pihak berwenang berharap bantuan internasional dapat segera tiba untuk mengevakuasi korban dan memenuhi kebutuhan mendesak warga terdampak.
Informasi lebih lanjut dan update terbaru terkait gempa Afghanistan dapat diakses di JurnalLugas.Com.






