JurnalLugas.Com — Gempa bumi yang mengguncang Laut Maluku pada Kamis pagi menjadi sorotan kalangan ilmiah. Peristiwa ini bukan sekadar aktivitas seismik biasa, melainkan cerminan kompleksitas struktur geologi langka yang dikenal sebagai double subduction di kawasan Indonesia timur.
Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) mencatat gempa terjadi pukul 06.48 WITA di zona tektonik aktif yang mempertemukan dua lempeng samudera. Direktur PSGS, Ardy Arsyad, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis mekanisme sumber gempa dari United States Geological Survey dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa tersebut memiliki karakter sesar oblique-reverse gabungan gerakan naik dan geser.
“Gempa ini terjadi di dalam lempeng atau intraslab, bukan pada batas utama antarlempeng seperti yang umum terjadi pada gempa megathrust,” ujarnya.
Fenomena Langka di Zona Subduksi Ganda
Kawasan Laut Maluku dikenal sebagai salah satu wilayah dengan dinamika tektonik paling kompleks di dunia. Di sini, dua lempeng samudera Sangihe dan Halmahera saling menunjam dari arah berlawanan, membentuk sistem yang disebut double subduction.
Menurut Ardy, kondisi ini menciptakan distribusi tekanan atau stress partitioning yang tidak biasa. Akibatnya, gempa yang terjadi tidak selalu mengikuti pola klasik gempa subduksi dangkal yang sering memicu tsunami besar.
Dengan kedalaman sekitar 30 kilometer dan sudut bidang sesar yang curam, gempa ini tidak berasal dari zona megathrust Sangihe. Sebaliknya, ia mencerminkan deformasi internal dalam lempeng akibat interaksi dua sistem subduksi yang saling berlawanan.
Potensi Tsunami Lokal dan Risiko Geologi
Meski bukan gempa megathrust, PSGS mengingatkan bahwa peristiwa ini tetap mampu memicu tsunami berskala lokal. Gelombang yang terbentuk cenderung lebih kecil, namun tetap berpotensi berdampak pada wilayah pesisir terdekat.
Selain itu, guncangan kuat berisiko terjadi terutama di daerah dengan tanah lunak. Kondisi ini dapat memperkuat gelombang seismik (amplifikasi), meningkatkan potensi kerusakan bangunan.
Ancaman lain yang tak kalah penting adalah likuefaksi, khususnya di wilayah dengan sedimen jenuh air. Fenomena ini dapat menyebabkan tanah kehilangan kekuatan dan berperilaku seperti cairan saat diguncang gempa.
Imbauan Kewaspadaan Tanpa Kepanikan
PSGS menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait harus menjadi rujukan utama dalam mengambil keputusan.
Pemerintah daerah juga diminta segera melakukan evaluasi terhadap infrastruktur vital di wilayah terdampak, terutama fasilitas publik dan jaringan transportasi.
“Kesiapsiagaan masyarakat pesisir perlu diperkuat, termasuk pemahaman terhadap peta risiko tsunami lokal berbasis kondisi geologi setempat,” kata Ardy.
PSGS memastikan akan melanjutkan kajian mendalam terhadap gempa ini, termasuk kaitannya dengan dinamika tektonik regional. Hasil analisis diharapkan dapat menjadi dasar penguatan mitigasi bencana di Sulawesi dan kawasan sekitarnya.
Baca selengkapnya di JurnalLugas.Com
(SF)






