JurnalLugas.Com – Mayoritas masyarakat Amerika Serikat (AS) berpendapat Presiden Donald Trump tidak layak menerima Hadiah Nobel Perdamaian, meski ia kerap mengklaim prestasinya di panggung diplomasi dunia. Hal itu terungkap dalam survei nasional terbaru yang dirilis Washington Post dan Ipsos.
Hasil jajak pendapat daring yang dilakukan pada 11–15 September terhadap 2.513 orang dewasa menunjukkan, 76 persen responden menilai Trump tidak pantas menerima Nobel Perdamaian, sementara hanya 22 persen yang menilai sebaliknya.
Penolakan Publik atas Kebijakan Luar Negeri Trump
Ketidakpercayaan publik erat kaitannya dengan sikap Trump dalam isu global. Sekitar 60 persen responden menyatakan tidak setuju dengan pendekatannya terhadap konflik Rusia–Ukraina, sementara 58 persen menolak langkahnya dalam menyikapi ketegangan Israel–Hamas.
Di kalangan Partai Republik sendiri, dukungan terhadap Trump terbelah rata. Sebanyak 49 persen menyebut ia layak mendapat Nobel, namun 49 persen lainnya justru berpendapat sebaliknya. Dukungan semakin tipis di luar basis politiknya: hanya 14 persen pemilih independen dan 3 persen pendukung Partai Demokrat yang menilai ia pantas.
Klaim Trump di PBB
Hasil survei ini muncul tak lama setelah Trump menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB. Dalam kesempatan itu, ia menyebut telah “mengakhiri tujuh perang besar” sejak kembali menjabat presiden, mulai dari konflik di Kamboja–Thailand hingga Armenia–Azerbaijan.
Trump bahkan menyatakan, “Semua orang mengatakan saya seharusnya mendapat Hadiah Nobel Perdamaian untuk setiap pencapaian ini.” Namun, sejumlah pengamat internasional menilai klaim tersebut tidak akurat. Misalnya, Mesir dan Ethiopia tidak pernah berada dalam kondisi perang pada masa pemerintahannya.
Selain itu, Trump menegaskan pengakuan terhadap negara Palestina dianggap sebagai hadiah untuk Hamas. Ia juga menyerukan pembebasan sandera 7 Oktober dari Gaza, serta mendesak Eropa mengenakan tarif tambahan pada Rusia dan menghentikan pembelian minyaknya.
Tanggapan Dunia Internasional
Sejumlah negara besar seperti Inggris, Prancis, dan Kanada telah lebih dulu mengumumkan pengakuan terhadap Palestina. Namun, Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak pandangan Trump bahwa langkah tersebut otomatis memperkuat Hamas.
“Saya melihat seorang presiden AS yang aktif, yang menginginkan perdamaian, yang menginginkan Hadiah Nobel Perdamaian. Namun Nobel hanya mungkin jika Anda menghentikan perang ini,” ujar Macron.
Publik AS Juga Kritik Nobel untuk Obama
Menariknya, survei yang sama juga menyinggung soal penerima Nobel Perdamaian terdahulu. Sebanyak 54 persen responden berpendapat mantan Presiden Barack Obama tidak pantas menerima penghargaan tersebut pada 2009, meski kala itu ia dipuji sebagai simbol harapan perubahan global.
Berita lengkap dan berita terkini lainnya bisa dibaca di JurnalLugas.Com.






