One Piece Berkibar Kerusuhan Demo Madagaskar Ribuan Warga Protes Pemerintah

JurnalLugas.Com – Ibu kota Madagaskar dilanda gelombang protes besar-besaran yang dipicu oleh krisis listrik dan air bersih. Ribuan warga turun ke jalan menuntut hak dasar mereka, menimbulkan bentrokan sengit dengan aparat yang menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Menurut laporan media lokal, demonstran tidak hanya menyoroti fasilitas publik, tetapi juga menyerang rumah pejabat. Bendera bajak laut dari anime populer One Piece dikibarkan sebagai simbol perlawanan, mencerminkan frustrasi generasi muda terhadap kemiskinan struktural, korupsi, dan kegagalan pemerintah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Bacaan Lainnya

Lebih dari 70% warga Madagaskar hidup di bawah garis kemiskinan. Pemadaman listrik bahkan dapat berlangsung hingga 12 jam per hari, memicu ketidakpuasan yang meluas. Demonstrasi kali ini berlangsung meskipun pemerintah telah melarangnya. Aparat sempat menutup akses ke pusat kota, namun massa tetap berkumpul di berbagai titik, termasuk kawasan Ambohijatovo.

Baca Juga  Wajib Tahu! Aturan Demo di KUHP Baru Bisa Kena Pidana Jika Langgar Syarat Ini

Tiga rumah politisi dekat Presiden Andry Rajoelina dibakar, termasuk kediaman senator Lalatiana Rakotondrazafy. Petugas pemadam kebakaran yang mencoba meredakan api malah dilempari batu oleh pengunjuk rasa. Selain itu, sejumlah fasilitas publik dan properti komersial seperti bank, toko elektronik, minimarket, serta stasiun kereta gantung—simbol proyek unggulan pemerintah—dirusak dan dijarah.

Menjelang malam, kerusuhan berlanjut tanpa pengawasan keamanan yang memadai. Ratusan pelajar dari sekolah Prancis di Antananarivo terpaksa ditahan di sekolah demi alasan keselamatan, sementara pemerintah menutup semua sekolah keesokan harinya. Satu penerbangan Air France juga dialihkan ke Mauritius karena situasi yang memburuk.

Sebagai langkah darurat, pemerintah memberlakukan jam malam hingga pukul 05.00 pagi dan menurunkan pasukan elit GSIS (Groupe de Securité et d’Intervention Spéciale) untuk membubarkan massa. Tiga demonstran dilaporkan ditangkap, dan sedikitnya tiga jurnalis menjadi korban kekerasan aparat.

Mayoritas pengunjuk rasa adalah anak muda yang membawa spanduk bertuliskan “Leo be” atau “Kami muak”, menuntut keadilan serta hak atas listrik dan air. Melansir Media TV Lokal, seorang mahasiswi berusia 20 tahun mengatakan, “Kami membayar pajak, bekerja keras, tapi tetap tidak ada listrik. Kami hanya menuntut hak kami.” Ia menegaskan aksi ini bukan untuk merusak, melainkan demi kebutuhan dasar yang layak.

Baca Juga  20 Ribu Buruh Kepung Istana & Gedung Sate, UMP 2026 Jakarta–Jabar Dinilai Tak Manusiawi

Sementara itu, Presiden Andry Rajoelina yang sedang menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York belum memberikan pernyataan resmi terkait krisis di dalam negeri. Ia sebelumnya terpilih kembali pada pemilu 2023 yang sempat diboikot oleh oposisi dan hanya diikuti kurang dari separuh pemilih terdaftar.

Aksi ini menjadi sorotan internasional sekaligus pengingat keras bagi pemerintah Madagaskar terkait urgensi penyediaan layanan dasar dan dialog dengan masyarakat.

Sumber informasi selengkapnya dapat diakses di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait