Daftar 10 Saham Top Losers Pekan Ini, BULL dan IDPR Paling Tertekan

JurnalLugas.Com — Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar sepuluh saham dengan penurunan tertajam pada periode perdagangan 27–31 Oktober 2025. Tekanan jual di pasar saham tampak meluas di berbagai sektor, seiring dengan turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup melemah 1,3 persen ke posisi 8.163,875 pada akhir pekan.

Dari data perdagangan BEI, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menjadi saham dengan koreksi terdalam pekan ini. Nilainya ambles 35,88 persen, dari Rp340 per saham menjadi Rp218. Analis pasar menilai penurunan tajam BULL disebabkan oleh tekanan profit taking investor setelah reli sebelumnya yang cukup signifikan.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (IDPR) yang terkoreksi 28,26 persen ke Rp330 dari posisi pekan sebelumnya di Rp460. Saham sektor konstruksi ini disebut tengah menghadapi tekanan akibat perlambatan proyek infrastruktur dan kekhawatiran terhadap kinerja keuangan kuartal IV.

Baca Juga  Dragonmine Mining Hong Kong Akuisisi PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE), Saham Meledak 285%! Investor Berebut Cuan

Menurut catatan statistik BEI, Sabtu (1/11/2025), berikut daftar lengkap 10 saham dengan penurunan terbesar (top losers) selama sepekan:

  1. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) – turun 35,88% ke Rp218
  2. PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (IDPR) – turun 28,26% ke Rp330
  3. PT Star Pacific Tbk (LPLI) – turun 28% ke Rp540
  4. PT Pakuan Tbk (UANG) – turun 26,92% ke Rp2.090
  5. PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) – turun 25,38% ke Rp294
  6. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) – turun 22,60% ke Rp805
  7. PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) – turun 22,48% ke Rp200
  8. PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) – turun 21,23% ke Rp282
  9. PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) – turun 21,15% ke Rp2.870
  10. PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) – turun 18,22% ke Rp175

Seorang analis pasar modal dari salah satu sekuritas di Jakarta mengatakan, tekanan jual pada pekan terakhir Oktober mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap potensi perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas. “Sebagian besar saham yang melemah berasal dari sektor energi, properti, dan logistik yang sangat sensitif terhadap gejolak eksternal,” ujar analis tersebut.

Baca Juga  Merger Mandala Multifinance (MFIN) ke Adira Finance (ADMF) Ini Rasio Tukar Sahamnya

Meski demikian, pelaku pasar optimistis tekanan ini bersifat sementara. Dengan sentimen positif dari rencana stimulus ekonomi dan potensi penurunan suku bunga, saham-saham yang mengalami koreksi tajam berpeluang rebound pada pekan berikutnya.

Untuk investor, momen koreksi seperti ini bisa menjadi kesempatan meninjau ulang portofolio dan mempertimbangkan strategi jangka menengah yang lebih defensif.

Baca berita ekonomi dan investasi terkini hanya di JurnalLugas.com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait