JurnalLugas.Com – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut saham PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) dan PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) dari papan pemantauan khusus. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada Senin, 21 April 2025.
Langkah tersebut diumumkan oleh Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar, pada Jumat (18/4/2025). Sebelumnya, kedua saham tersebut tercatat dalam papan pemantauan khusus dengan skema full-call auction (FCA) lantaran memenuhi kriteria ke-10, yaitu mengalami suspensi lebih dari satu hari akibat aktivitas perdagangan yang tidak wajar.
Dinamika Saham FORU: Turun Tajam Usai Isu Akuisisi
Saham FORU sempat dihentikan sementara perdagangannya oleh BEI pada akhir Maret 2025. Penangguhan itu dilakukan setelah harga saham mengalami penurunan drastis, dipicu oleh kabar burung soal akuisisi oleh IMR Asia Holding demi skenario backdoor listing.
Namun, rumor tersebut ditepis oleh manajemen. Direktur FORU, Hadi Pranggono, menegaskan bahwa perusahaan tetap fokus menjalankan lini bisnis inti di sektor periklanan. Ia juga memastikan bahwa IMR Asia Holding tetap mendukung arah strategi bisnis yang telah dirumuskan oleh tim manajemen.
Setelah sempat disuspensi, perdagangan saham FORU dibuka kembali pada 9 April 2025 dan langsung masuk ke papan pemantauan khusus. Dalam rentang satu bulan terakhir, saham ini mengalami koreksi lebih dari 20 persen.
Saham UDNG Melonjak, Tapi Tanpa Kabar Positif Resmi
Berbeda dengan FORU, saham UDNG justru disuspensi karena mengalami lonjakan harga yang cukup tajam. Hingga kini, belum ada penjelasan konkret mengenai penyebab peningkatan harga saham emiten yang bergerak di bidang budidaya udang vaname tersebut.
“Kami tidak memiliki informasi material yang dapat memengaruhi nilai efek perusahaan ataupun keputusan investasi dari para pemodal,” jelas Direktur Utama UDNG, Vincent Lukito, dalam keterangan resmi.
Dalam Public Expose insidentil, Direktur UDNG lainnya, Christian Brandon Limbono, menyampaikan bahwa kinerja perusahaan diprediksi akan membaik berkat aktivitas tambak baru yang dikelola oleh anak usaha, PT Marina Bahari Sentosa (MBS), di Bangka Selatan. Tambak tersebut telah melakukan tebar benih perdana pada Februari 2025.
Christian menambahkan bahwa dampak dari aktivitas ini akan mulai terasa dalam 1-2 bulan mendatang melalui panen parsial hingga panen raya. Ia juga menyebut bahwa skala produksi tambak di Bangka Selatan tersebut mencapai tiga hingga empat kali lipat lebih besar dibandingkan tambak milik perusahaan induk.
Seiring dengan saham FORU, suspensi perdagangan UDNG juga dicabut pada 9 April 2025 dan sahamnya dimasukkan ke dalam papan FCA. Selama satu bulan terakhir, saham UDNG tercatat melonjak lebih dari 40 persen.
Untuk informasi lebih dalam dan berita aktual lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






