Wabah Kolera Afrika Kian Parah 300 Ribu Kasus, 7 Ribu Tewas & Infrastruktur Air Runtuh

JurnalLugas.Com — Afrika kembali berada dalam kondisi darurat kesehatan setelah otoritas regional melaporkan bahwa benua tersebut kini menghadapi wabah kolera terbesar dalam 25 tahun terakhir. Lonjakan kasus semakin mengkhawatirkan, terutama di Burundi dan Angola, menurut laporan terkini yang disampaikan Africa CDC pada Kamis, 13 November 2025.

Laporan resmi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mengungkapkan bahwa lebih dari 300.000 kasus kolera tercatat sepanjang tahun ini. Jumlah itu melonjak drastis dibandingkan dengan 254.000 kasus pada tahun sebelumnya, sementara kematian melampaui 7.000 jiwa yang tersebar di berbagai negara Afrika.

Bacaan Lainnya

Dalam konferensi pers virtual mingguan, Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa CDC, menegaskan bahwa kolera masih menjadi ancaman serius bagi benua tersebut.

Menurut Kaseya, perkembangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang konsisten meningkat. “Dari data 2022 hingga kini, setiap tahun jumlah kasus terus naik, begitu juga angka kematian dan negara yang terjangkit,” ujarnya dalam sesi wawancara yang diringkas.

Baca Juga  Lonjakan Harga Kakao Berjangka di Bursa Komoditi New York Sentimen Negara Penghasil Kakao Afrika Masih Kemarau

Ia menekankan urgensi implementasi penuh rencana respons kolera yang telah disusun sebelumnya. “Kita harus menjalankan secara total rencana respons yang diluncurkan di Zambia agar tren ini bisa dihentikan,” katanya.

Rencana respons yang ia maksud adalah program terpadu yang dirilis di Lusaka, Zambia, pada Agustus lalu. Program tersebut berlangsung dari September 2025 hingga Februari 2026, dengan fokus pada penguatan pengawasan medis, penanganan pasien, pelibatan masyarakat, kelancaran logistik, dan vaksinasi terarah.

Lonjakan Kasus Capai 30 Persen, Infrastruktur Air Jadi Penyebab Utama

Lonjakan besar yang terjadi pada tahun ini menandai peningkatan lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Negara seperti Angola dan Burundi menjadi pusat perhatian karena kenaikan tajam kasus dalam beberapa pekan terakhir. Africa CDC menilai lemahnya infrastruktur air bersih menjadi pemicu utama penyebaran bakteri.

Kaseya menegaskan bahwa “tanpa akses air bersih, mengendalikan kolera hampir mustahil,” sambil menambahkan bahwa Africa CDC kini bekerja sama dengan sejumlah pemerintah untuk mengatasi akar permasalahan tersebut.

Baca Juga  Israel Resmi Akui Kemerdekaan Somaliland, Picu Polemik Global dan Penolakan Regional

Kondisi di Kongo Tetap Genting

Sementara itu di Republik Demokratik Kongo (DRC), kondisi masih sangat memprihatinkan. Konflik berkepanjangan dan perpindahan penduduk menyebabkan penanganan kolera semakin sulit. Meski ada sedikit penurunan kasus minggu ini, pejabat kesehatan menilai situasinya masih rentan memburuk sewaktu-waktu.

Secara keseluruhan, kolera kini telah menjalar di 23 negara Afrika. Penyakit yang ditularkan melalui konsumsi air atau makanan terkontaminasi ini menjadi ancaman yang terus menghantui jutaan penduduk di kawasan dengan fasilitas sanitasi terbatas.

Dengan penyebaran yang terus berkembang, para ahli kesehatan menyerukan peningkatan akses air bersih, edukasi kesehatan masyarakat, serta vaksinasi massal sebagai bagian dari langkah mendesak untuk menekan dampak epidemi.

Sumber berita lengkap lainnya dapat dibaca di: https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait