JurnalLugas.Com — Sikap keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro memasuki babak baru. Trump dikabarkan semakin ngotot menekan Maduro agar segera turun dari jabatan dan meninggalkan Venezuela, bahkan menawarkan jaminan keamanan jika Maduro bersedia pergi secara sukarela.
Menurut seorang sumber yang mengetahui isi komunikasi kedua pemimpin, Trump menyampaikan ultimatum tersebut melalui panggilan telepon pada Senin (1/12). Percakapan itu berlangsung di tengah meningkatnya kesiapan militer AS yang disebut-sebut sedang mempersiapkan opsi operasi darat di wilayah Venezuela.
Tawaran Jaminan Keamanan Ditolak Maduro
Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Trump tidak hanya meminta Maduro mundur, tetapi juga mendesaknya untuk membawa serta keluarganya—termasuk istrinya, Cilia Flores, dan anak-anaknya—keluar dari negara itu demi memastikan proses transisi politik berjalan mulus.
“Trump menegaskan agar Maduro segera pergi demi mencegah konflik lebih besar,” ujar sumber tersebut.
Maduro disebut meminta “pengampunan global” atas dugaan pelanggaran yang melibatkan dirinya dan lingkaran dekatnya. Namun permintaan itu ditolak pihak AS.
Masih menurut sumber itu, Maduro juga meminta agar dirinya tetap mengendalikan angkatan bersenjata selama proses transisi, meniru model Nikaragua era Violeta Chamorro. Namun Washington menolak permintaan tersebut karena dinilai tidak sejalan dengan rencana pembentukan pemerintahan demokratis baru.
Trump Tegas, Tapi Bungkam soal Isi Detail Pembicaraan
Trump membenarkan telah melakukan percakapan telepon dengan Maduro, namun memilih tidak menyampaikan detail isi pembicaraan. Pernyataan itu justru memperkuat spekulasi adanya tekanan kuat dari AS terhadap Caracas.
Langkah-langkah keras Trump ini dinilai konsisten dengan sikapnya selama beberapa tahun terakhir, di mana ia kerap menyebut Maduro sebagai pemimpin yang “tidak sah” dan bertanggung jawab atas keruntuhan ekonomi Venezuela.
Ketegangan AS–Venezuela Meningkat Tajam
Ketegangan kian memuncak setelah Trump menyatakan wilayah udara Venezuela akan “sepenuhnya ditutup” bagi sejumlah penerbangan. Pemerintah Venezuela mengecam keras pernyataan tersebut dan menuntut agar AS memberikan “penghormatan penuh terhadap kedaulatan udara nasional.”
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS juga baru-baru ini menetapkan Cartel de los Soles, kelompok yang menurut mereka dipimpin Maduro dan pejabat tinggi lain, sebagai organisasi teroris asing (FTO). Penetapan ini semakin mempersempit ruang politik Maduro di mata internasional.
Pengamat: Tekanan AS Berada di Titik Puncak
Para analis menilai strategi Trump kini berada pada fase paling agresif untuk mendorong kejatuhan Maduro. Dengan tekanan diplomatik, ancaman penutupan wilayah udara, hingga opsi intervensi militer, Washington tampaknya ingin memastikan perubahan rezim di Caracas.
Belum ada tanggapan resmi dari Maduro terkait ultimatum terbaru ini. Namun pemerintahan Venezuela disebut tengah mengamati langkah-langkah AS sambil mempersiapkan berbagai skenario pertahanan.
Situasi ini membuat kawasan Amerika Latin kembali menjadi pusat perhatian global, dengan banyak pihak khawatir eskalasi dapat berkembang menjadi konflik bersenjata.
Selengkapnya kunjungi: https://JurnalLugas.Com






