JurnalLugas.Com — Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mengingatkan bahwa perubahan orientasi pemanfaatan lahan nasional yang terlalu banyak diarahkan untuk perluasan perkebunan sawit dapat membawa konsekuensi serius bagi masa depan Indonesia. Menurutnya, kebijakan yang tidak berimbang bisa mengancam kedaulatan ekonomi, merusak keberlanjutan lingkungan, dan menutup peluang tumbuhnya industri bernilai tambah tinggi.
Novita menilai bahwa jika hampir seluruh ruang produktif dialokasikan untuk sawit, maka Indonesia akan kehilangan kesempatan membangun sektor industri modern yang membutuhkan ruang riset serta fasilitas pengembangan teknologi.
“Kita harus menjaga keseimbangan. Pertumbuhan ekonomi penting, tetapi perlindungan lingkungan dan masa depan generasi Indonesia jauh lebih krusial,” ujar Novita Hardini, Jumat 5 Desember 2025.
Indonesia Butuh Arah Tata Ruang yang Visioner
Menurut Novita, tantangan tata ruang nasional hari ini sangat kompleks. Kebutuhan energi bersih, tekanan perubahan iklim, sampai persaingan ekonomi global menuntut negara mengambil keputusan strategis yang mengarah pada teknologi hijau.
Ia menegaskan bahwa mengandalkan sektor berbasis eksploitasi sumber daya alam mentah tidak akan membawa Indonesia menjadi negara industri maju.
“Kita harus masuk ke era baru teknologi ramah lingkungan. Itu satu-satunya jalan agar Indonesia memiliki daya saing tanpa harus merusak ekosistem,” kata Novita Hardini.
Menurutnya, industrialisasi masa depan tidak bisa lagi berdiri di atas model lama yang didominasi energi fosil dan ekspor komoditas mentah. Transformasi harus dimulai dari investasi besar pada teknologi tinggi, energi terbarukan, dan industri cerdas.
Kendaraan Listrik Bukan Tren, tetapi Kebutuhan Nasional
Novita menekankan bahwa teknologi kendaraan listrik dan energi bersih harus menjadi prioritas. Ia menilai Indonesia tidak boleh hanya mengikuti tren global, melainkan harus menjadikan teknologi tersebut bagian dari strategi nasional.
“Kita membutuhkan industri masa depan yang bersih, efisien, dan tidak memberi beban besar pada alam,” ucapnya.
Menurutnya, pengembangan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan juga akan meningkatkan nilai tambah nasional serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Membangun Rantai Pasok Hijau dalam Negeri
Lebih jauh, Novita menegaskan bahwa transformasi industri hanya bisa berjalan jika Indonesia memiliki rantai pasok bahan baku yang kuat dan berkelanjutan. Standar produksi dalam negeri, katanya, harus memenuhi prinsip hijau agar tidak mengulang kesalahan masa lalu.
“Kita harus menyiapkan pemasok bahan baku yang mengikuti standar keberlanjutan. Tanpa itu, inovasi teknologi hanya akan berjalan setengah hati,” tutur Novita Hardini.
Ia memperingatkan bahwa ketergantungan impor bahan baku hanya akan membuat industri nasional rentan terhadap krisis geopolitik dan fluktuasi global.
Roadmap Industri Hijau Harus Menjadi Kebijakan Negara
Novita mendorong pemerintah menyusun roadmap pembangunan industri masa depan yang tidak hanya aman dari sisi bisnis, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang. Keputusan yang diambil hari ini, katanya, akan menentukan kualitas lingkungan hidup generasi mendatang.
“Kita perlu strategi nasional yang benar-benar menghitung dampak ekologis. Ini bukan lagi pilihan, tetapi kewajiban,” tegasnya.
Menurutnya, Indonesia harus bergerak cepat sebelum peluang ekonomi hijau diambil negara lain yang sudah lebih dulu membangun fondasi teknologi berkelanjutan.
Selengkapnya kunjungi: JurnalLugas.Com






