Harga Minyak Global Aman Dekati Level Tertinggi, Investor Tunggu Kebijakan Fed dan Perundingan Ukraina

JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia bertahan mendekati puncak dua minggu terakhir pada perdagangan Senin (8/12/2025) waktu setempat. Lonjakan ini didorong oleh ekspektasi pasar bahwa pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Rusia dan Venezuela juga berpotensi mengganggu pasokan global.

Selasa, 9 Desember 2025, harga minyak mentah Brent turun tipis 0,7% ke USD63,32 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menyusut 0,7% menjadi USD59,67 per barel.

Bacaan Lainnya

Analis pasar PVM, Tamas Varga, menyatakan pasar saat ini bersikap “menunggu dan melihat” sambil menunggu keputusan lebih lanjut mengenai suku bunga AS dan perkembangan perundingan damai Ukraina.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Anjlok OPEC+ Siap Naikkan Produksi

“Jika kesepakatan tercapai segera, ekspor minyak Rusia berpotensi meningkat dan menekan harga,” kata Varga.

Perundingan Damai Rusia-Ukraina Masih Berliku

Perundingan di Eropa bergerak lambat, dengan perbedaan pendapat mengenai jaminan keamanan Kyiv dan status wilayah yang dikuasai Rusia masih menjadi kendala. Pejabat AS dan Rusia juga belum sepakat terkait rencana perdamaian yang diajukan pemerintahan Trump.

Analis ANZ mencatat, berbagai skenario dari upaya terakhir Trump untuk mengakhiri konflik bisa memicu fluktuasi pasokan minyak hingga lebih dari dua juta barel per hari.

Sementara itu, Vivek Dhar dari Commonwealth Bank of Australia menilai risiko utama bagi harga minyak adalah kemungkinan gencatan senjata, sedangkan kerusakan jangka panjang pada infrastruktur energi Rusia menjadi faktor tekanan naik yang signifikan.

“Kami memperkirakan kekhawatiran kelebihan pasokan akan muncul, seiring aliran minyak dan produk olahan Rusia menemukan cara menghindari sanksi, sehingga harga berjangka mendekati USD60 per barel hingga 2026,” jelas Dhar.

Kondisi ini menunjukkan pasar minyak global masih sangat sensitif terhadap berita geopolitik dan kebijakan moneter, sehingga investor tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Sumber data dan informasi lebih lengkap dapat dibaca di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait