JurnalLugas.Com — Pengadilan Rakyat Menengah Provinsi Hainan menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Li Weiwei, mantan pejabat senior Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC), setelah terbukti menerima suap dalam jumlah fantastis selama hampir dua dekade masa jabatannya.
Dalam putusan yang dibacakan Selasa (3/2), Li dinyatakan bersalah karena menerima suap senilai 117 juta yuan atau setara Rp284 miliar sepanjang periode 2006 hingga 2024. Media pemerintah China melaporkan, selain hukuman penjara seumur hidup, pengadilan juga mencabut seluruh hak politik Li untuk selamanya serta menyita seluruh aset pribadinya untuk negara.
Pengadilan menegaskan, dana hasil kejahatan yang belum sepenuhnya dikembalikan akan terus dikejar guna memulihkan kerugian negara.
Manfaatkan Jabatan Strategis
Dalam pertimbangannya, majelis hakim menyatakan Li menyalahgunakan posisi strategisnya sebagai anggota Komite Tetap Partai Komunis China (PKC) Provinsi Hunan dan Wakil Direktur Komite Kependudukan, Sumber Daya, dan Lingkungan Hidup CPPCC.
Lewat pengaruh jabatan tersebut, Li membantu sejumlah pihak memperoleh keuntungan, mulai dari kontrak proyek, izin usaha, hingga kelancaran operasional bisnis tertentu. Pengadilan menilai nilai suap yang diterima tergolong “sangat besar” dan menimbulkan dampak kerugian yang “luar biasa serius” bagi kepentingan negara dan publik.
“Perbuatan terdakwa telah merusak tatanan pemerintahan dan kepercayaan masyarakat,” demikian pernyataan pengadilan yang dikutip media resmi China.
Diringankan Karena Kooperatif
Meski menjatuhkan hukuman maksimal, pengadilan tetap mempertimbangkan sejumlah faktor yang meringankan. Li dinilai bersikap kooperatif, mengakui seluruh perbuatannya, serta secara sukarela mengungkap kasus suap lain yang sebelumnya belum terdeteksi aparat.
Selain itu, ia juga aktif mengembalikan sebagian besar dana hasil kejahatan, sehingga hukuman mati dengan penangguhan tidak dijatuhkan dalam perkara ini.
Jejak Karier Panjang Li Weiwei
Li Weiwei, yang kini berusia 67 tahun, merupakan warga asli Provinsi Hunan dan bergabung dengan PKC sejak Juli 1976. Ia mengawali karier sebagai guru Bahasa dan Sastra China di SMA Negeri No. 2 Zhuzhou, sebelum meniti jalan panjang di birokrasi dan politik.
Sepanjang kariernya, Li pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Kelompok Pimpinan Urusan Taiwan dan Ketua Asosiasi Persahabatan Luar Negeri Provinsi Hunan. Jabatan puncaknya adalah Wakil Direktur Komite Kependudukan, Sumber Daya, dan Lingkungan Hidup CPPCC ke-14, lembaga penasihat politik tingkat nasional di China.
Pada Juli 2024, Li resmi diselidiki atas dugaan pelanggaran berat disiplin partai dan hukum negara. Ia kemudian ditangkap pada Februari 2025, dan persidangannya digelar terbuka pada 6 November 2025.
Bagian dari Kampanye Antikorupsi China
Kasus Li Weiwei menambah daftar panjang pejabat tinggi yang tumbang dalam kampanye antikorupsi besar-besaran yang digencarkan Presiden Xi Jinping sejak 2012.
Sehari sebelum vonis Li dibacakan, pengadilan di Kota Xiamen juga menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada mantan menteri kehakiman China atas perkara serupa.
Data Komisi Pusat Inspeksi Disiplin dan Komisi Pengawasan Nasional PKC mencatat, sepanjang 2025, sebanyak 69 pejabat setingkat provinsi atau lebih tinggi serta sekitar 983 ribu individu telah dijatuhi hukuman dalam berbagai kasus korupsi.
Langkah tegas ini kembali menegaskan komitmen pemerintah China dalam membersihkan praktik korupsi, bahkan terhadap pejabat perempuan senior yang pernah berada di lingkaran elite kekuasaan.
Baca berita internasional dan nasional terpercaya lainnya hanya di:
https://JurnalLugas.Com






