JurnalLugas.Com — Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menegaskan bahwa Presiden Donald Trump menjadikan isu senjata nuklir Iran sebagai prioritas utama kebijakan luar negeri Washington. Pemerintah AS, kata Vance, masih mengedepankan jalur diplomasi, namun tetap membuka berbagai opsi lain jika pembicaraan tidak membuahkan hasil.
Dalam pernyataannya pada Rabu, 11 Februari 2026, Vance menyebut Trump telah menginstruksikan seluruh jajaran senior pemerintahannya untuk mengejar kesepakatan yang dapat memastikan Iran tidak mengembangkan atau memiliki senjata nuklir.
“Presiden menginginkan kesepakatan yang menjamin Iran benar-benar bebas dari senjata nuklir. Itu menjadi garis kebijakan yang jelas,” ujar Vance.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Washington tidak akan bergantung pada satu pendekatan saja. Jika diplomasi menemui jalan buntu, Amerika Serikat siap mempertimbangkan langkah alternatif.
“Jika kesepakatan tidak tercapai, tentu ada opsi lain yang tersedia. Presiden akan tetap menjaga semua pilihan di atas meja,” tambahnya.
Opsi Militer Mulai Dipertimbangkan
Pernyataan Vance memperkuat sinyal keras yang sebelumnya disampaikan Trump. Pada Selasa, 10 Februari 2026, Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang mengkaji kemungkinan pengerahan kelompok serang kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah.
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari persiapan jika negosiasi nuklir dengan Teheran gagal total. Kehadiran tambahan kekuatan militer dinilai sebagai pesan tekanan strategis sekaligus bentuk kesiapsiagaan AS menghadapi berbagai skenario.
AS Tegaskan Tak Kejar Perubahan Rezim
Menariknya, Vance menekankan bahwa fokus AS saat ini bukanlah perubahan rezim di Iran. Washington, menurutnya, tidak berniat mencampuri urusan politik domestik Teheran.
“Jika rakyat Iran ingin mengganti pemerintahan mereka, itu sepenuhnya keputusan rakyat Iran. Fokus kami satu: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan tersebut bukan kebijakan baru, melainkan telah menjadi garis konsisten Trump sejak masa jabatan pertamanya sebagai presiden.
Negosiasi di Oman Masih Berlanjut
Upaya diplomatik terbaru dilakukan pada 6 Februari 2026, ketika delegasi Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan terkait program nuklir di Muscat, Oman. Trump menilai dialog tersebut berjalan positif, meski belum menghasilkan kesepakatan final.
Namun, dari pihak Iran, sinyal yang muncul justru memperlihatkan sikap keras. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Minggu, 8 Februari 2026, menegaskan bahwa Teheran tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium.
Ia menyatakan bahwa hak tersebut tetap akan dipertahankan, bahkan jika konsekuensinya berisiko memicu konflik bersenjata.
Ketegangan Kawasan Masih Tinggi
Pernyataan saling berlawanan dari Washington dan Teheran menunjukkan bahwa masa depan kesepakatan nuklir Iran masih penuh ketidakpastian. Di satu sisi, AS menuntut jaminan penuh tanpa kompromi soal senjata nuklir. Di sisi lain, Iran bersikukuh pada kedaulatan program nuklirnya.
Situasi ini membuat Timur Tengah kembali berada dalam sorotan dunia, dengan potensi eskalasi yang bisa berdampak luas terhadap stabilitas kawasan dan geopolitik global.
Baca berita dan analisis mendalam lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com






