JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak. Pemerintah Iran menegaskan akan terus melawan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, seraya menyatakan memiliki hak penuh untuk membela diri sesuai hukum internasional.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menegaskan bahwa tidak ada satu pun pemimpin dunia yang berhak membatasi respons Iran terhadap serangan yang ditujukan ke wilayahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi pada Minggu (1/3) sebagai respons atas peringatan keras Presiden AS, Donald Trump, yang melarang Iran melakukan serangan balasan.
Dalam unggahannya di platform media sosial Truth Social, Trump menulis dengan nada tegas bahwa Iran tidak boleh menyerang balik dan mengancam akan merespons dengan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya apabila hal itu terjadi.
Iran: Hak Membela Diri Tidak Bisa Dibatasi
Menanggapi pernyataan tersebut, Araghchi menyebut sikap Trump sebagai bentuk intervensi yang tidak berdasar. Ia menekankan bahwa tindakan Iran murni merupakan langkah defensif.
“Kami membela diri dan memiliki hak yang sah untuk melindungi rakyat kami. Tidak ada batasan bagi kami untuk menjaga keamanan nasional,” ujar Araghchi dalam pernyataannya yang disingkat.
Ia juga menegaskan adanya perbedaan mendasar antara agresi dan pertahanan. Menurutnya, respons Iran adalah bentuk perlindungan terhadap kedaulatan negara, bukan eskalasi sepihak.
Bayang-Bayang Gagalnya Diplomasi Nuklir
Ketika ditanya kemungkinan jalur negosiasi dengan AS, Araghchi menunjukkan sikap pesimistis. Ia menyebut pengalaman perundingan nuklir dalam beberapa tahun terakhir sebagai “pengalaman pahit” bagi Teheran.
Iran, kata dia, mengalami serangan pada 28 Februari serta sebelumnya pada Juni 2025, saat proses diplomatik dengan Washington tengah berlangsung dan diklaim menunjukkan kemajuan.
Araghchi juga menyinggung adanya pengaruh Israel dan sejumlah penasihat di lingkaran Trump yang dinilai mendorong keterlibatan AS lebih jauh ke dalam konflik, meski peluang kesepakatan damai sempat muncul dalam perundingan di Jenewa pada 26 Februari.
Kerugian Militer dan Kesiapan Serangan Balasan
Terkait dampak serangan terhadap infrastruktur militer Iran, Araghchi mengakui adanya korban di pihaknya, termasuk sejumlah komandan militer senior.
“Kami kehilangan beberapa komandan, itu fakta. Namun kemampuan militer kami tidak berubah,” tegasnya.
Ia bahkan mengklaim bahwa kesiapan militer Iran saat ini lebih kuat dibandingkan konflik 12 hari sebelumnya pada Juni 2025. Menurutnya, pasukan Iran berada dalam posisi yang lebih siap dan responsif untuk melancarkan serangan balasan.
Korban Jiwa dan Klaim Operasi Militer
Di sisi lain, serangan udara besar-besaran yang dilakukan AS dan Israel dilaporkan memasuki hari kedua pada Minggu (1/3). Operasi tersebut diklaim menewaskan 48 pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Trump juga menyatakan bahwa pasukan AS telah menenggelamkan sembilan kapal perang Iran serta menghancurkan sebagian besar markas besar angkatan laut negara tersebut.
Sementara itu, Komando Pusat AS melaporkan tiga personel militer Amerika tewas dan lima lainnya mengalami luka berat dalam operasi militer terhadap Iran.
Eskalasi Konflik dan Dampak Global
Analis menilai eskalasi konflik ini berpotensi memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah dan memicu dampak ekonomi global, terutama terhadap harga energi dan stabilitas pasar internasional.
Dengan retorika yang semakin keras dari kedua belah pihak, peluang deeskalasi kini bergantung pada langkah diplomatik lanjutan yang hingga saat ini masih belum menunjukkan titik terang.
Situasi yang berkembang cepat ini menjadi perhatian dunia internasional, mengingat potensi konflik terbuka antara dua kekuatan besar dapat memicu krisis yang lebih luas.
Ikuti perkembangan berita geopolitik dan analisis mendalam lainnya hanya di https://jurnallugas.com
(WN)






