JurnalLugas.Com — Grup otomotif raksasa asal Jerman, Volkswagen Group, tengah bersiap menjalankan langkah efisiensi besar-besaran. Perusahaan menargetkan pemangkasan biaya operasional hingga 20 persen di seluruh merek yang berada di bawah naungannya, dengan tenggat waktu paling lambat akhir 2028.
Rencana penghematan tersebut telah disampaikan secara internal sejak Januari lalu oleh CEO Oliver Blume, yang juga menjabat sebagai pimpinan Volkswagen AG, pada Selasa, 17 Februari 2026. Meski demikian, hingga kini manajemen belum merinci secara terbuka langkah konkret yang akan ditempuh.
Penutupan Pabrik Masuk Pertimbangan
Sejumlah sumber internal menyebutkan, opsi penutupan pabrik menjadi salah satu skenario yang sedang dikaji. Upaya efisiensi sebelumnya di fasilitas produksi Wolfsburg, Emden, dan Zwickau dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap struktur biaya perusahaan.
Langkah ini melanjutkan kebijakan restrukturisasi besar yang telah diumumkan pada akhir 2024. Saat itu, Volkswagen Group menyatakan rencana pengurangan tenaga kerja yang berpotensi berdampak pada lebih dari 35.000 karyawan di Jerman hingga 2030.
Kebijakan tersebut sekaligus menandai berakhirnya operasional Transparent Factory, serta pemindahan produksi model legendaris Volkswagen Golf secara bertahap ke Meksiko sebagai bagian dari strategi efisiensi global.
Efisiensi Capai Miliaran Euro
Juru bicara perusahaan mengungkapkan bahwa program penghematan yang telah berjalan sebelumnya berhasil menekan biaya hingga dua digit miliaran euro. Dana hasil efisiensi itu disebut berperan penting dalam menahan tekanan eksternal, terutama akibat dinamika geopolitik dan kebijakan tarif perdagangan internasional.
Volkswagen saat ini menghadapi tekanan ganda, baik dari pasar Eropa maupun Amerika Serikat. Kebijakan tarif impor yang diterapkan AS dilaporkan membebani perusahaan hingga 1,5 miliar dolar AS, atau setara Rp25,2 triliun, dalam periode semester pertama 2025.
Tantangan Kendaraan Listrik dan Pasar China
Di luar isu tarif, tantangan lain datang dari strategi besar Volkswagen di sektor kendaraan listrik. Laju adopsi mobil listrik di sejumlah pasar utama berlangsung lebih lambat dari proyeksi awal, sehingga belum mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan.
Tekanan juga datang dari pasar China, yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung penjualan global. Selain itu, persoalan pengembangan perangkat lunak dan platform kendaraan generasi baru turut menambah beban biaya perusahaan.
Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat laba operasional Volkswagen Group anjlok hingga 33 persen pada semester pertama 2025, memperkuat urgensi manajemen untuk mempercepat agenda efisiensi jangka panjang.
Langkah pemangkasan biaya hingga 2028 ini dipandang sebagai upaya krusial Volkswagen untuk menjaga daya saing di tengah perubahan industri otomotif global yang kian agresif dan penuh ketidakpastian.
Baca berita ekonomi dan otomotif lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com






